Mendampingi Anak Menjadi Seorang Pembelajar

Sebagai orangtua, saya dan suami memiliki harapan besar agar kedua putri kami Kirana (6 tahun) dan Aruna (4 tahun) tumbuh menjadi anak – anak yang sholehah dan bertakwa kepada Allah SWT.

Meskipun orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak, tentunya saya dan suami membutuhkan support system lain yang dapat membantu kami dalam mendidik anak – anak agar mereka tumbuh sesuai harapan. Itu sebabnya saya dan suami menyekolahkan Kirana di sebuah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) yang sebagian kurikullum sekolahnya berisi tentang pelajaran agama, akhlak, dan budi pekerti.

Hal yang membuat saya tertarik menyekolahkan Kirana di SDIT tersebut salah satunya karena sekolah ini memiliki program unggulan Tahfidz (menghafal) Quran dengan metode UMMI, dengan target hafalan 3 *juz Alquran selepas lulus sekolah. Andaikan tidak memenuhi target juga tidak apa – apa, karena kemampuan menghafal tiap anak juga berbeda – beda.

Namun dari pengalaman yang berjalan, para alumni rata – rata memang mampu menghafal 3 juz Alquran, bahkan lebih, selepas lulus sekolah. 

Contohnya Naira, kakak kelas Kirana yang juga tetangga kami. Naira yang duduk di kelas 5, saat ini sudah hafal juz 30 dan juz 29. Dan sekarang, ia sedang melanjutkan hafalan Alquran juz 28. Berarti total, sudah hampir 3 juz yang sudah dihapalnya.  Sayangnya Naira begitu pemalu untuk diambil foto, sehingga saya tak bisa menampilkan sekilas profilnya di sini.

Kalau membayangkan diri sendiri saat seusia anak – anak itu, rasanya bakalan stress jika saya harus mendapat pelajaran menghafal Alquran di sekolah. Jangankan 1 juz, menghapal 1 surat saja rasanya sudah kesulitan. Lalu bagaimana anak – anak ini bisa bersekolah sambil menghafal Alquran hingga beberapa juz di usia muda. Karena yang menarik, saya melihat mereka enjoy – enjoy saja dengan sekolahnya. Begitu pula dengan Kirana.

membangun kebiasan belajar pada anak
Kegiatan di sekolah Kirana, saat memperingati Hari Ozon Sedunia

membangun kebiasan belajar pada anak
Kegiatan membuat prakarya

membangun kebiasan belajar pada anak
Suasana belajar di kelas

membangun kebiasan belajar pada anak
Kegiatan market day di sekolah

Secara konsep, sekolah memiliki pendekatan tertentu agar anak – anak akrab dan terbiasa dengan bacaan Alquran.  Sehingga bacaan Alquran menjadi budaya dan keseharian anak – anak selama bersekolah disana.  Contohnya dengan memperdengarkan bacaan Quran saat jam kedatangan anak sekolah melalui speaker, shalat dhuha dan dhuhur bersama, murajaah bersama, dan lain - lain.

Jadi bukan dengan menjejali anak dengan hafalan, hafalan dan hafalan. Karena program pelajaran di sekolah juga tidak hanya Tahfidz Quran saja.

Terlepas dari teknis yang diterapkan di sekolah, guru juga mendorong sinergi dari orangtua agar pengajaran di sekolah berkesinambungan dengan di rumah

Kalau saya, sinergi yang saya lakukan contohnya dengan membuat jadwal mengaji di rumah bersama anak. Biasanya selepas Ashar, saya berusaha meluangkan waktu untuk mengaji, membaca buku UMMI, bersama anak, sekaligus mengecek hafalan Alquran Kirana. Tidak terlalu lama, hanya 10 sampai 15 menit saja. Tapi dilakukan setiap hari.  

Sebenarnya Kirana juga bersekolah TK di yayasan yang sama. Jadi rutinitas mengaji dan menghafal ayat Alquran juga sudah biasa dilakukan saat di sekolah TK. Namun sinergi di rumah ini baru coba saya terapkan beberapa bulan menjelang kelulusan TK, agar Kirana lancar saat tampil menghafal Alquran bersama kawan – kawannya saat syukuran kelulusan TK. Dan memang terasa ada bedanya. Mungkin karena dilakukan setiap hari dan diulang – ulang juga dirumah, anak akhirnya juga jadi lebih cepat menghafal.

membangun kebiasan belajar pada anak
Kirana saat tasyakuran kelulusan TK


Dari sharing yang saya peroleh dari sesi parenting saat di sekolah TK dulu, kunci mendampingi anak dalam menghafal Alquran adalah rutin dan konsisten. Idealnya, orangtua juga sebaiknya ikut membangun rutinitas menghafal Alquran di rumah. Jadi tidak hanya sekolah, keluarga juga ikut mengambil peran dalam hal ini. 

Rutinitas yang berulang akan menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang berulang akan menjadi karakter.   

Dari sini saya jadi belajar bahwa ketika orangtua ingin anak – anaknya memiliki karakteristik yang baik, maka orangtua juga harus bisa menanamkan kebiasaan – kebiasaan baik pada anak secara berulang dan terus menerus. 

Sebelumnya, saya juga belajar hal semacam ini dari kakak ipar saya. 

Berbulan – bulan yang lalu, ketika suami harus menjalani revisi operasi patah tulang, kami sekeluarga menginap di rumah kakak ipar di Batam hingga sebulan lamanya. Sebulan tentunya waktu yang cukup lama untuk mengenal karakter dan rutinitas orang yang tinggal bersama kita. Dan selama sebulan itu, ada satu rutinitas keponakan saya, Ellan, yang tak pernah terlewat setiap hari Minggu hingga Kamis malam.

Yaitu, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, Ellan akan masuk ke kamarnya di lantai 2, kemudian belajar ditemani mamanya, yang biasanya juga baru pulang bekerja sebagai dokter bedah di sebuah rumah sakit swasta. Selalu konsisten dan disiplin seperti itu. 

Menyingkirkan lelahnya, saya salut sekali dengan kakak ipar saya, mbak Wulan, yang selalu komit menemani Ellan belajar setiap hari. Belajar bersama seakan sudah menjadi quality time tersendiri bagi mereka.

Kecil - kecil sudah rajin belajar. Begitulah keponakan saya Ellan.

membangun kebiasan belajar pada anak
Tiga bersaudara Ellan, Aruna dan Kirana

Setelah dipikir – pikir, nggak heran juga keponakan saya ini tergolong cerdas dan berprestasi. Karena belajar sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Tidak seperti saya dahulu kala yang hanya belajar saat hendak ujian saja, sehingga nilai ujian juga selalu pas – pasan, hehe.

Melihat Ellan dan mamanya, saya juga jadi ingin agar Kirana dan Aruna memiliki kebiasaan yang sama seperti Ellan. Oleh karena itu, saya lalu meniatkan diri sendiri untuk mengajak Kirana belajar setiap hari saat ia mulai masuk SD. Belajar apa saja, yang penting belajar dan membangun kebiasaan belajar.

Hal yang saya niatkan itu sudah berjalan. Sekarang, saya mulai mengajak anak – anak belajar selepas maghrib, kurang lebih satu jam hingga menjelang tidur. Waktunya 5 kali dalam seminggu. Ketika keesokan harinya libur sekolah, maka pada malam harinya anak – anak juga libur belajar.

Awalnya, saya membuat jadwal belajar untuk Kirana. Namun secara praktik, akhirnya Kirana sendiri yang mengatur subjek apa yang ingin ia pelajari saat belajar bersama mama. Apakah ingin belajar membaca, menulis, dan lain – lain. Dari situlah saya jadi tahu ketertarikannya akan mata pelajaran tertentu. Dan selama ini, Kirana  ternyata lebih sering minta belajar matematika.

Sedangkan Aruna, biasanya ia sudah saya ajak bermain saat kakaknya bersekolah. Jadi saat kakaknya belajar, ia biasanya mewarnai, mencorat coret kertas, atau bermain boneka. 

Yang lucu, Kirana biasanya paling tidak suka ketika diinterogasi ditanya – ditanya soal kegiatannya selama di sekolah. Tapi kalau sedang belajar bersama begini, kadang – kadang Kirana malah sering nyeletuk dan bercerita sendiri soal kejadian – kejadian yang dialami saat disekolah. 

membangun kebiasan belajar pada anak
Kirana sedang belajar matematika
Pernah ada satu celetukannya yang membuat saya kaget sekali, karena terlontar dari mulut anak kelas 1 SD yang baru 2 bulan aktif sekolah. Kurang lebih begini percakapan kami pada saat itu.

Kirana : “Mah, Adiba kan pacarnya Alzam. Kalo Naya pacarnya kakak kelas. Terus kalo mas Momo pacarnya 5, tauk.”
Mama : (keselek) “Walah. Kalo Kira pacarnya siapa?”
Kirana : “Nggak ada. Nggak ada yang ganteng.”
Mama : (ngakak) “Masak nggak ada yang ganteng. Kalo yang cakep, ada nggak?”
Kirana : “Nggak ada yang cakep dan ganteng, kata Kira.”
Mama : “Oooo.. emang pacaran itu apa sih kak?”
Kirana : “Pacaran itu ya liat – liatan terus senyum – senyuman.”
Mama : (ngakak so hard)

Dalam hati saya membatin sendiri, kenapa anak – anak generasi alfa ini cepat sekali dewasanya. Walaupun masih kecil, namun anak – anak ini memiliki pemikiran melebihi usianya. Aduh - aduh. Nah, disinilah keluwesan orangtua dalam menyelami pemikiran anak diuji.  

Dari celetukan itu, saya kemudian memberikan penjelasan yang ringan untuk Kirana tentang apa itu pacaran, bagaimana sebaiknya dalam berteman, bagaimana adab bergaul dengan teman laki – laki, dan sebagainya.

Barulah terasa, belajar bersama seperti ini ternyata juga dapat membangun kedekatan dengan anak. Karena disela – sela belajar, kita juga bisa berdiskusi dengan anak tentang apa saja yang dipikirkannya. 

Nah, saat belajar bersama, Kirana juga tak melulu belajar mata pelajaran sekolah. Mengikuti suasana hatinya, kadang Kirana hanya ingin menggambar saja, atau minta dibacakan buku oleh mama. Tak masalah. Selama positif dan anak – anak nyaman, saya membebaskan mereka untuk mengeksplore apa saja. Karena tujuan saya satu, membangun kebiasaan belajar Kirana dan Aruna sejak dini. Agar mereka menjadi seorang pembelajar atas hal – hal yang disukainya kelak.

Selanjutnya saya juga ingin agar anak – anak dekat dengan buku. Karena dekat dengan buku memiliki banyak manfaat positif untuk anak, seperti memperkaya kosakata, serta menambah wawasan. 

Meskipun Kirana sudah bisa membaca, namun Kirana adalah anak type audio yang memang tidak suka membaca buku – buku dengan banyak tulisan. Tapi kalau dibacakan buku, ia akan duduk anteng dan ikut menyimak. Jadi untuk membantu anak – anak agar dekat dengan buku, selama ini saya membacakan buku untuk mereka sebelum tidur. Harapannya, suatu saat nanti anak – anak jadi suka membaca karena terbiasa dibacakan buku. Syukur – syukur jadi suka main ke perpustakaan juga seperti mamanya saat sekolah dulu.

membangun kebiasan belajar pada anak
Today a reader, tomorrow a leader
membangun kebiasan belajar pada anak
Mengajak Kirana dan Aruna ke toko buku
Pertanyaannya, sulit nggak sih membangun kebiasaan rajin belajar dan suka membaca pada anak, seperti yang sedang saya usahakan ini?

Kalau yang saya rasakan, awalnya memang sulit ya. Sulit yang sangat terasa itu datangnya dari diri sendiri. Sungguh, buat orang pemalas seperti saya, rasanya sangat sulit untuk berdisiplin dan rutin mengajak anak - anak belajar sesuai waktu yang sudah saya tentukan sendiri jadwalnya.

Kadang hari ini saya mengajak anak - anak belajar, keesokannya sudah malas. Kadang 2 hari belajar. Besoknya malas lagi. Rasa malas inilah yang mulanya menjadi penghalang bagi saya dalam membangun kebiasaan belajar pada anak.

Untuk anak - anak sendiri so far saat saya mulai mengajak mereka belajar bersama selepas maghrib, mereka tak pernah protes atau menolak. Alasannya karena ditemani oleh mama. Dengan kata lain, kehadiran saya sebagai orangtua saat mendampingi mereka belajar, ternyata memang membuat mereka senang dan bersemangat.

Jadi kalau untuk saya sendiri, sulit tidaknya membangun kebiasaan belajar dan suka membaca pada anak, kembali lagi kepada niat dan seberapa besar tekad orangtua dalam mendampingi anak yang sedang berproses membangun kebiasaan baik ini.

Seperti yang dilansir dari laman Sahabat Keluarga, orangtua memang sebaiknya mendampingi anak belajar, tak peduli berapapun jenjang usianya. Meskipun anak - anak sudah besar dan mampu belajar secara mendiri, ketika orangtua mendampingi anak belajar, hal ini akan menjadi kenangan indah yang akan selalu terukir di hati anak.

Pentingnya Membangun Kebiasan Baik Pada Anak 

Saya jadi teringat dengan konsep 7 Habits yang diterapkan di sekolah tempat Kirana menimba ilmu. Secara singkat, 7 Habits ini adalah kebiasaan – kebiasaan baik yang dibudayakan pada para siswa agar mereka terbiasa berpikir efektif, bertindak efektif, dan memiliki karakter yang terpuji. Seperti biasa, sekolah juga mengharapkan agar orangtua bisa bersinergi dan menerapkan konsep 7 Habits ini dirumah pada anak - anak. 

Gambaran besarnya adalah, jika anak – anak dibiasakan bertindak efektif, berpikir efektif dan melakukan kebiasaan baik secara berulang, anak – anak akan menjadi pribadi yang unggul dan adaptif di masa depan nanti. 

Masalahnya, kita tidak bisa serta merta mengharapkan anak – anak untuk melakukan kebiasaan baik yang sudah kita arahkan dengan kesadaran penuh dari mereka sendiri. Anak - anak gitu loh. Jadi sudah tugas kita khususnya orangtua, untuk tak bosan – bosannya mengingatkan dan membangun kebiasaan baik pada anak lewat rutinitas – rutinitas, sampai kebiasaan itu mendarah daging dan menjadi karakter dalam dirinya.


membangun kebiasan belajar pada anak
Berfoto di depan pohon 7 Habits

membangun kebiasan belajar pada anak
Materi 7 Habits yang dibagikan sekolah, sebagai pegangan untuk para orangtua 
Perjalanan anak - anak ini masih panjang. Semoga kebiasaan belajar dan membacakan buku yang coba saya tanamkan secara rutin pada anak, bisa membuat mereka menjadi seorang pembelajar. Yang selalu ingin tahu, dan tak puas dalam mencari ilmu.

Semoga saya dan para orangtua se-Indonesia Raya diberi kemampuan untuk membimbing anak – anak kami. Agar anak – anak kami mampu menjadi seorang pembelajar, dan mampu menebar manfaat di masa depannya nanti. Aamiin.

Dimulai dari rumah. Dimulai dari keluarga.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga

Note :
* Juz = adalah cara pembagian dalam Alquran, dimana dalam keseluruhan Alquran terdiri dari 30 Juz.

0 Response to "Mendampingi Anak Menjadi Seorang Pembelajar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel