Kiat Menghadapi Anak Tantrum (2)


Pada artikel saya sebelumnya yang berjudul Menghadapi Anak Tantrum, disana saya sedikit bercerita tentang bagaimana stressnya saya saat menghadapi Kirana yang sedang memasuki fase tantrum. Kirana mulai tantrum saat menginjak usia 2 tahun. Intensitasnya mulai dari beberapa kali sehari, sehari sekali, beberapa hari sekali, hingga jarang – jarang tergantung mood serta kondisi hati. Dan fase tantrumnya itu baru berakhir saat usianya memasuki 5 tahun. 

Kadarnya sendiri kalau diibaratkan penyakit, mungkin setara dengan stadium 3 atau 4, hahah. Karena ketika sedang tantrum, selain menangis hingga menjerit – jerit Kirana juga memukul, mencakar, menarik – narik baju, dan mengoceh tak karuan. Pokoknya kalau sedang menghadapi Kirana yang tantrum, rasanya seperti lagi perang.

Jujur, tidak mudah menghadapi anak yang tantrum seperti ini. Karena jika orang dewasa yang ada disekitarnya tidak bisa memanage emosinya dengan baik, yang terjadi adalah orang dewasa juga ikut tersulut emosi. Tabokan melayang, cubitan mendarat, mungkin juga sumpah serapah ikut terlontar (astaghfirullahal azim).

Seperti itulah saya di awal – awal menghadapi Kirana yang tantrumnya bisa dibilang super. Saya mencubit, memukul tangannya. Untungnya tak sampai mengucap sumpah serapah, meskipun aliran darah saya rasanya mendidih dengan tingkah Kirana yang membuat kepala nyut – nyutan setiap hari.
Begitupun dengan ayah Kirana yang pernah kehilangan kesabaran dan merespon tingkah tantrum Kirana dengan hukuman fisik. Kakeknya yang terkenal paling sabar di keluarga kami, bahkan sampai mengunci Kirana dalam kamar saking menyerah dengan ulah tantrum Kirana. Kata kami, Kirana kalau sudah tantrum itu seperti orang kesurupan. Segala bujuk rayu dan kata – kata manis tidak ada yang mempan. Rasanya seperti ada saklar yang mendadak on hingga membuatnya seperti itu.

Nyatanya, ketika kita merespon tingkah tantrum anak secara emosional, hal tersebut nggak akan membuat anak serta merta diam. Sungguh, tidak. Justru tantrumnya akan semakin menjadi – jadi. Dan bisa jadi, respon negatif kita dapat menimbulkan trauma pada diri anak.

Dari beberapa artikel yang saya baca, sebaiknya orangtua tetap berada di dekat anak ketika ia sedang tantrum sambil tetap mengawasi dan memberi perhatian. Namun pada kasus saya, seringkali saya akhirnya harus mengunci diri di kamar bersama Aruna, untuk menghindari kontak fisik yang berkelanjutan. Saya juga tidak ingin memberikan allowance pada Kirana untuk boleh memukul atau menyakiti orang lain saat ia sedang tantrum. Sehingga membuat batas lewat sebuah pintu terkadang jadi solusi bagi saya ketika menghadapi Kirana saat sedang tantrum. Barulah ketika ia mulai tenang, tak lagi menggedor – gedor pintu, dan mengoceh tak karuan, saya keluar kamar untuk menenangkannya. 

Dan setiap kali Kirana selesai tantrum, saya tak pernah absen mengajaknya bicara dari hati ke hati. Seperti ini, “Kakak tadi kenapa kok kayak gitu?”. Dan tahu tidak, jawabannya selalu begini, “Kira juga nggak tahu ma, huhu.”. Sambil lanjut nangis lagi, tapi nangis melas. Nah, setiap ngobrol, Kirana juga sebenarnya tahu yang dilakukannya itu tidak baik. Tapi entah kenapa ia tidak bisa mengendalikannya. Seperti yang saya katakan tadi, seperti ada saklar yang tiba – tiba on.

Menurut hemat saya, ketika anak sedang tantrum sebenarnya ia hanya butuh kesempatan untuk menyalurkan emosinya yang meledak – ledak itu. Pernah nggak saat kita sedang kalut atau dilanda masalah, kita ingin berteriak sekencang – kencangnya untuk melepas segala emosi. Mungkin, seperti itulah yang dirasakan anak – anak yang sedang tantrum.

Kendali menghadapi anak tantrum sebenarnya ada pada orang dewasa di sekitarnya dimana mereka benar – benar harus bisa memanage emosi dengan sebaik – baiknya. Tidak hanya orangtua, melainkan pengasuh atau kakek nenek yang membantu merawat anak – anak kita.  

Pengalaman saya selama 3 tahun menghadapi Kirana yang tantrum, satu – satunya cara yang paling efektif saat menghadapi anak yang tantrum adalah orangtua harus sabar. Tarik nafas dalam – dalam dan hembuskan. Jangan pernah merasa kalau anak kita itu nakal. Jangan pernah karena apa yang kita rasa itu bisa menjadi doa untuk anak kita. Sebaliknya, doakan yang baik – baik untuk anak kita

Ketika anak mulai menunjukkan tanda – tanda hendak tantrum, sebisa mungkin cepat – cepat dhibur, dipeluk, atau digendong. Namun jika ia mulai menjadi – jadi, menangis, menjerit, atau berguling – guling di lantai, biarkan saja selama itu tak menyakitinya. Nanti juga capek sendiri dan berhenti kok. Nggak usah malu sama tetangga. Tutup telinga dan cuek saja apa kata orang di sekitar kita. Selama kita yakin kita tak melakukan hal buruk pada anak kita.

Ketika tantrum anak mulai mereda, segera beri pelukan dan elus – elus punggungnya. Diluar itu, sering – seringlah beri pelukan dan ciuman untuk anak – anak kita. Agar ia selalu merasa disayangi dan tak menyimpan amarah dalam dirinya akibat perbuatan kita yang menyakiti hati dan perasaannya saat ia sedang tantrum.

Dan terakhir, jangan bosan – bosan mengajak anak kita ngobrol. Untuk menyelami perasaannya, untuk menyelami keinginannya. Kalau bukan kita yang berusaha mengerti anak kita, lantas siapa lagi?

Insya Allah fase tantrum tidak selamanya kok. Sabar saja :)


Ketika Aruna Mulai Tantrum

Jika fase tantrum Kirana dimulai pada usia 2 tahun, maka adiknya Aruna baru mulai fase tantrum di usia 3 tahun. Tapi saya bersyukur tantrumnya tak sesuper Kirana. Walaupun tetap saja bikin kepala mamak pusing.

Seperti hari ini saja, sejak bangun tidur hingga jam 9.30 pagi, sudah 3 kali ia menangis tantrum.

Yang pertama saat bangun tidur, gara - gara Aruna ingin makan biskuit kentang kesukaannya. Sementara stok di rumah juga sudah habis. Dan masih terlalu pagi untuk mencari ke toko sehingga akhirnya Aruna menangis tantrum.

Yang kedua saat mandi. Sepertinya hampir setiap mandi selalu ada drama tantrum persembahan Aruna. Dari mulai masalah air yang kurang dingin, sabun yang kurang berbusa, dan lain – lain.

Yang ketiga setelah mandi. Gara – gara berebut buku dengan kakaknya. Sekarang – sekarang ini, ending Aruna dan Kirana kalau sedang berantem sudah tertebak. Saya sudah pasrah saja melihat Aruna yang akhirnya pecah tangis hingga menjerit – jerit.

Sama dengan kakaknya, Aruna juga sekarang mulai main fisik saat tantrum. Yaitu memukul dan menggigit. Korbannya siapa lagi kalau bukan mamanya. Bedanya, Kirana main fisiknya dengan menyerang bertubi – tubi, kalau adiknya lebih kalem. Sekali atau dua kali memukul. Tapi bagian yang disasar juga strategis, seperti wajah atau kacamata mama, huhu.

Untungnya Aruna lebih mudah dikendalikan. Cukup digendong, dipeluk, disayang – sayang kepalanya, dicium – cium pipinya. Setidaknya sepuluh menit kemudian sudah anteng lagi. Kalau kakaknya dulu bisa sampai sejam T_T.

Ah nikmati saja proses ini. Karena suatu saat saya pasti bakal merindukan saat – saat ini. 

Just my two cents. Selamat menghadapi anak tantrum ^^.



0 Response to "Kiat Menghadapi Anak Tantrum (2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel