Pelibatan Keluarga Dalam Menghadapi Tantangan PenyelenggaraanPendidikan di Era Digital



Dua putri saya, Kirana dan Aruna, adalah anak - anak generasi alpha atau *Gen-Z yang lahir di era digital. Sejak usia dini mereka berdua sudah mengenal internet via gadget dan laptop. Hal ini sulit dihindari mengingat ayah dan ibunya adalah orangtua milenial yang sehari - harinya lekat dengan internet. Akan tetapi kehadiran internet di tengah keluarga kami maknai secara positif karena sangat membantu keluarga dalam menjalankan peran strategis sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak - anak kami.

Di dunia jagat maya kita bisa mencari ribuan aplikasi edukatif yang bisa dimanfaatkan oleh orangtua sebagai sarana pendidikan anak. Untuk Aruna yang berusia 3 tahun misalnya, saya bisa memanfaatkan aplikasi yang diunduh dari internet untuk memperkenalkan ragam warna, huruf, buah - buahan, dan lain sebagainya. Belajar dengan media internet sejauh ini selalu menyenangkan karena programnya dikemas secara menarik disertai games edukatif yang tak kalah seru.

Tidak hanya sebagai sarana pendidikan, keluarga kami juga memanfaatkan internet sebagai sarana hiburan untuk menonton video atau bermain games. Untuk anak - anak penggunaannya tentu saja dikontrol agar mereka tidak kecanduan.

Selama anak - anak masih dalam kendali orangtua, penggunaan internet masih bisa kita atur. Namun satu hal yang perlu diingat adalah, sekeras apapun kita berusaha membatasi penggunaan internet pada anak, kita tidak bisa menafikan fakta bahwa seiring dengan usianya yang semakin dewasa, suatu saat nanti anak - anak dapat menggunakan internet secara mandiri. Akan ada masa dimana anak - anak bebas menggunakan internet di luar pengawasan orangtua. Dan ini adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari.


Tantangan pendidikan di era digital


Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengatakan bahwa jumlah pengguna internet pada tahun 2017 mencakup 54,68 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 262 juta orang. Secara komposisi usia, 16.68 % pengguna internet adalah anak usia 13 - 18 tahun dimana usia tersebut adalah rentang usia anak SMP dan SMA. Nilai penetrasi penggunaan internet pada usia ini juga cukup tinggi, yaitu sebesar 75.5%.

Jika kita cermati lebih jauh lagi, perilaku penggunaan internet di kalangan pelajar sesungguhnya tidak hanya untuk kebutuhan pendidikan saja. Namun juga untuk eksis di media sosial, untuk hiburan, dan lain - lain. Orangtua yang tidak bisa mengawasi anak selama 24 jam tentunya menyimpan kekhawatiran tersendiri terhadap konten negatif tak terfilter di internet yang mungkin saja diakses oleh anak. Sehingga orangtua juga perlu mewaspadai dampak negatif penggunaan internet di kalangan pelajar seperti :



  • Bullying

  • Phubbing

  • Malas beraktifitas

  • Malas beribadah

  • Tindakan amoral

  • Pornografi dan pornoaksi

  • Kekerasan dan radikalisme

  • Menurunnya semangat belajar yang berimbas pada prestasi

  • Dan lain lain

Dampak negatif internet di kalangan pelajar ini tidak hanya PR besar bagi Indonesia yang bercita - cita mencetak generasi emas pada tahun 2045. Namun juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang tercantum pada UU no 20 tahun 2003. Yaitu, "Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab".

Tantangan dunia pendidikan di era digital ini tentunya patut jadi perhatian kita bersama.


Pentingnya pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era digital


Ayah bunda tentunya masih ingat dengan konsep Tri Pusat Pendidikan yang digagas oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Konsep tersebut menjelaskan bahwa ada 3 tempat belajar bagi anak, yaitu rumah (keluarga), sekolah (satuan pendidikan) dan lingkungan (masyarakat). Ketiga elemen ini sama pentingnya, harus seiring sejalan serta harus saling mendukung. Dengan kata lain sinergi antara keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat harus terjalin dengan baik agar tercipta ekosistem yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak. Lebih - lebih di tengah derasnya arus teknologi masa kini. Tiga tempat belajar ini harus saling bergandengan tangan agar anak tidak terseret dampak negatif era digital, khususnya internet.


  Sumber : twitter @Kemdikbud_RI]

Untuk menciptakan sinergi yang baik di Tri Pusat Pendidikan, pelibatan keluarga sangat diperlukan. Kenapa pelibatan keluarga? Karena bagaimanapun juga keluarga adalah rumah tempat anak makan, tidur dan kembali pulang tak peduli berapapun usia mereka. Keluarga merupakan unit terkecil tempat anak belajar sehingga penguatan pendidikan pada anak baik itu pendidikan karakter maupun pendidikan akademik bisa lebih terfokus. Keluarga juga dianggap memiliki kedekatan yang erat dengan anak didik sehingga tak salah jika keluarga memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.


Peran keluarga dalam mencegah dampak negatif internet di era digital


Sejatinya setiap anak memiliki fitrah belajar dalam dirinya. Bahkan sejak dalam kandungan anak sudah belajar merasakan emosi ibu, mencicipi sari - sari makanan di dalam rahim, dan sebagainya. Tugas orangtua adalah memelihara dan membangkitkan gairah fitrah belajar anak dengan pendekatan yang baik sehingga anak ingin belajar seumur hidupnya tanpa harus dipaksa - paksa.

Ketika anak semakin tumbuh besar, fitrah belajarnya diekspresikan dalam bentuk rasa ingin tahu dengan bertanya atau bertindak yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Dalam hal ini, peran orangtua atau keluarga adalah melakukan pendampingan dengan senantiasa menjawab setiap keingintahuan anak dengan sabar atau memfasilitasi rasa ingin tahunya itu.

Di era digital ini, anak - anak yang sudah bebas mengakses internet dapat dengan mudah mencari jawaban atas segala keingintahuan mereka. Inilah yang harus diwaspadai.


Solusi dari dampak negatif penggunaan internet pada pendidikan anak sebenarnya bukan hanya soal membatasi penggunaannya saja. Karena ketika kita mencoba membatasi atau mengontrol penggunaan gadget dan internet pada anak dirumah, bisa jadi mereka akan mencari akses di luar rumah. Entah itu lewat teman atau warung internet.

Saya membayangkan bertahun - tahun yang akan datang ketika Kirana dan Aruna memasuki usia remaja. Saat itu teknologi mungkin lebih maju lagi. Aplikasi - aplikasi kekinian di kalangan pelajar barangkali juga semakin bervariasi. Menghadapi hal itu, sebagai seorang ibu saya akan berusaha mengurangi gap teknologi yang biasa terjadi diantara orang tua dan anak. Istilahnya, saya ingin menjadi mama gaul yang juga berteman dengan anak - anak saya di media sosial, serta tak lupa untuk terus mengupdate diri dengan teknologi terkini yang diikuti oleh anak - anak saya nantinya.

Saya juga ingin meraih kepercayaan Kirana dan Aruna dengan memposisikan diri sebagai teman mereka di saat remaja nanti. Tujuannya adalah agar mereka leluasa untuk bercerita, bertanya dan berdiskusi dua arah dengan kami orangtuanya. Sebagai orangtua, kita juga harus lebih peka, bisa mengandalkan insting serta mampu membaca sikap gelagat anak karena bisa saja anak tak selalu terbuka pada orangtua terhadap hal - hal tertentu.

Ketika pendekatan kepada anak bisa dilakukan dan diterima dengan baik oleh anak, komunikasi akan terjalin dengan baik pula. Pada saat itu orangtua bisa menguatkan pendidikan karakter anak dengan memasukkan bekal, nasehat, wejangan pada anak. Harapannya adalah, tanpa harus dikekang atau dikontrol anak - anak akan lebih tahu batasan. Mereka paham mana yang benar dan yang salah, mana yang boleh dan tidak boleh, meskipun harus dilepas di belantara dunia jagat maya.

Selain itu, kita juga bisa mengaplikasikan Gerakan 1821 yang digagas oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School atau Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) Bandung. Seperti yang dijelaskan pada artikel berjudul "Yuk, Kita Galakkan Kembali Gerakan 1821", pada laman Sahabat Keluarga, Gerakan 1821 mengajak orangtua untuk berpuasa gadget dan internet pada pukul 18.00 - 21.00 dimana semua anggota keluarga sudah kembali ke rumah pada jam - jam ini.


Pada waktu ini orangtua dianjurkan untuk mendampingi dan menemani anak - anaknya sepenuh hati, jiwa dan raga. Bisa menemani bermain, menemani belajar, atau hanya sekedar berbincang - bincang. Menurut saya Gerakan 1821 ini sangat bagus sekali dan cocok diterapkan di era digital oleh orangtua millenial pada umumnya, dan orangtua bekerja pada khususnya.


Sinergi keluarga dengan sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan


Kita bisa memetik pelajaran dari artikel berjudul "Kepedulian Ayahnya Kunci Prestasi Naufal Raziq" yang diterbitkan oleh laman Sahabat Keluarga.

Naufal Raziq adalah siswa berprestasi yang menemukan energi listrik dari pohon kedondong. Selain mendorong Naufal untuk selalu terbuka pada orangtua, ayah Naufal juga sangat peduli dengan pendidikannya di sekolah. Rata - rata setiap dua bulan sekali ia selalu rutin mengunjungi wali kelas Naufal untuk bertanya soal perkembangan pendidikan dan pergaulan Naufal di sekolah.

Hal yang dilakukan oleh ayah Naufal ini adalah contoh nyata bentuk sinergi keluarga dengan sekolah yang bisa kita teladani bersama.

Saya sendiri cukup beruntung karena sekolah tempat Kirana menimba ilmu saat ini adalah sekolah yang sangat mendorong sinergisitas antara orang tua peserta didik, guru dan sekolah.

Bentuk sinergi dimulai dari group aplikasi chatting yang dibuat oleh guru kelas untuk mewadahi komunikasi antar orangtua siswa dan guru. Lewat group ini, segala informasi dari sekolah atau dari para orangtua siswa dapat tersampaikan dengan mudah. Guru juga rutin melaporkan kegiatan siswa sehingga orangtua dapat gambaran jelas tentang kegiatan anak selama di sekolah.



Sekolah tempat Kirana belajar juga rutin mengadakan parent class, family gathering, serta pertemuan orang tua dan guru. Selain itu, Forum Orangtua Siswa juga dibentuk agar para orangtua peserta didik guyub rukun, sekaligus untuk menjembatani aspirasi orangtua agar lebih mudah tersampaikan kepada pihak sekolah.

Sebagai orangtua saya sangat bersyukur sekolah Kirana ini sangat mendukung bentuk sinergi antar keluarga dengan sekolah. Bentuk dukungan yang saya lakukan adalah dengan pro aktif mengikuti berbagai event dan kegiatan yang diadakan sekolah sehubungan dengan bentuk sinergi tersebut, juga rutin berkomunikasi dengan guru kelas untuk mengetahui perkembangan Kirana selama di sekolah.


Keluarga adalah mitra sekolah. Sinergi yang baik antara keluarga dan sekolah tidak hanya akan mengoptimalkan potensi anak dalam bidang akademik saja namun juga turut membangun karakter anak yang cerdas digital di era digital ini.


Sinergi keluarga dengan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan


Sebagai orangtua, kita memiliki tugas untuk menghindarkan anak - anak dari pergaulan lingkungan yang buruk. Untuk itulah keluarga bersama masyarakat memiliki peran bersama - sama membangun suasana yang guyub rukun, gotong royong, sehingga tercipta iklim bermasyarakat yang kondusif untuk tumbuh kembang anak di lingkungannya.

Saat remaja dan masih tinggal bersama orangtua dulu, komplek tempat keluarga saya tinggal selalu aktif dalam mengadakan berbagai kegiatan. Mulai dari acara keagamaan, perayaan proklamasi kemerdekaan, dan sebagainya. Struktur kepanitiaan dibentuk oleh para tetua, dan para remaja komplek diberdayakan untuk masuk dalam struktur kepanitiaan. Anak usia SD juga mulai dilibatkan walau hanya jadi penggembira. Dalam pelaksanaannya, para tetua bertugas mengawal dan membimbing, sedangkan teknisnya diserahkan kepada remaja.

Yang saya rasakan waktu itu adalah suasana yang guyub antar warga, karena sering bertemu dan sering berkegiatan bersama. Ketika bertemu di jalan juga saling menyapa karena saling kenal. Benar - benar khas masyarakat desa.

Semoga hanya perasaan saja, namun yang saya rasakan sekarang, konsep seperti ini sepertinya sudah mulai luntur. Terutama di daerah perkotaan yang warganya sibuk dengan aktivitas masing - masing. Jangankan kenal satu kampung, tetangga kanan dan kiri saja jarang bertemu karena padatnya kegiatan.

Padahal masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang saling menjaga dan bisa memberikan ruang bagi anak - anak di sekitarnya untuk berkarya bahkan berprestasi agar energi mereka bisa tersalurkan dalam kegiatan - kegiatan positif.

Di era digital, masyarakat yang ideal seperti ini sangat dibutuhkan agar anak - anak tidak tenggelam dalam gadget dan internet. Dengan demikian mereka juga dapat terhindar dari pengaruh negatif internet. Sedangkan peran pelibatan keluarga disini adalah, keluarga menjelaskan konsep hidup bermasyarakat kepada anak dan mendorong anak untuk ikut serta dalam kegiatan - kegiatan yang ada di masyarakat.

***
Saling asah saling asih dan saling asuh diantara keluarga, sekolah dan masyarakat adalah pondasi untuk membangun karakter generasi muda agar mampu melanjutkan tongkat estafet pembangunan bangsa. Dan setiap keluarga sudah semestinya memahami betul apa arti pentingnya pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan di era digital ini. Mari kita doakan bersama agar cita - cita Indonesia untuk mencetak generasi emas pada tahun 2045 dapat terwujud. Demi Indonesia yang maju, makmur, dan mandiri. Aamiin.

#sahabatkeluarga

REFERENSI

  1. Website resmi Sahabat Keluarga Kemdikbud RI (www.sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id)

  2. Media Sosial Kemdikbud RI

  3. Instagram Sahabat Keluarga (@sahabatkeluargakemdikbud)

*Gen-Z adalah anak - anak yang lahir pada tahun 2010 - 2025

0 Response to "Pelibatan Keluarga Dalam Menghadapi Tantangan PenyelenggaraanPendidikan di Era Digital"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel