Selamatkan Generasi Muda dari Bahaya Tembakau, Rokok Harus Mahal


Sumber gambar : kabar3.com 

Hidup dalam keluarga yang menerapkan pola hidup sehat dengan ayah yang tidak merokok rupanya tidak serta merta menjauhkan adik saya Erza dari jeratan rokok. Erza bukan anak nakal dan begajulan. Teman - temannya juga bukan anak badung. Mereka hanya anak band yang sesekali suka nongkrong di warung angkringan 'sego kucing' demi menyeruput segelas es teh dan beberapa potong gorengan. Menyaksikan orang dewasa yang tampak asyik merokok disana sambil memainkan asapnya, rupanya membuat mereka jadi penasaran dan tertarik untuk mencoba. Padahal saat itu mereka masih duduk di bangku kelas 2 SMP, belum 17 tahun alias masih anak - anak.

Orangtua bukannya tidak mengingatkan, namun jika dilarang, takutnya Erza malah makin hilang kontrol dan kebablasan. Akhirnya ayah dan ibu memberi kelonggaran dan berusaha memaklumi. Yah, namanya juga anak laki.

Teringat masa SMP dulu. Waktu itu saya juga pernah secara tidak sengaja mendapati seorang teman lelaki yang dikenal pintar dan alim sedang menghisap rokok. Kejadiannya di luar sekolah. Namun hal itu tentu saja membuat syok. Yang pintar dan alim saja merokok, bagaimana dengan teman - teman lain yang terlihat urakan? Selidik punya selidik, ternyata teman - teman lelaki yang lain rata - rata juga sudah mencicipi rokok. Bahkan ada juga yang sudah merokok sejak SD. Hadeh.

Masalah rokok pada usia pra remaja sebenarnya bukan barang baru. Karena suami yang bukan perokok rupanya juga pernah mencicipi rokok saat SMP. Begitupun dengan ayah saya yang juga pernah merokok saat remaja. Untungnya mereka berdua tidak terlalu menikmati kepulan asap rokok sehingga tidak keterusan jadi pecandu.

Suami saya bahkan mengatakan, sealim - alimnya lelaki pasti pernah merokok. Alasannya apalagi kalau bukan pergaulan atau pengaruh lingkungan sekitar. Tak jarang juga anak jadi mencoba rokok karena sehari - hari melihat orang terdekatnya asyik merokok, seperti suami yang akhirnya mencoba rokok karena melihat keseharian bapak mertua saya yang perokok. Lagian bagaimana anak tidak kenal rokok, lha wong rokok dijual bebas dimana - mana, sudah harganya murah, bisa beli ketengan pula. Jika sebatang rokok saja harganya hanya seribu dua ribu perak, anak SD juga bisa beli kan. Nha lho.

Bahaya rokok pada anak

Tahu nggak sih, negara kita ini memiliki prestasi sebagai negara dengan proporsi perokok muda terbesar di kawasan Asia Pasifik. Dan angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun, diiringi dengan tren perokok pemula yang usianya makin muda. Sebagai bukti, kita bisa mengecek data yang dirilis Tobacco Control Asean, dimana katanya lebih dari 30% dari 20 juta anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun.

Faktor pendorong tingginya prevalensi perokok pemula di Indonesia ini, selain karena pergaulan, pengaruh orang terdekat dan keterjangkauan yang relatif mudah terhadap rokok, juga dikarenakan kurang pahamnya anak - anak terhadap bahaya yang mengintai dari konsumsi rokok. Beda dengan miras dan narkoba yang langsung terasa efeknya, dampak buruk rokok tidak langsung terasa. Sehingga hal ini bisa dibuat dalih anak - anak untuk mencoba rokok dengan logika yang simpel di mata mereka. Seperti yang dikatakan adik saya Erza pada saat itu, "Jek mending aku ngudut mbak, timbangane ngombe. Nek ngudut kan mung ambu asep thok.". (Masih mending aku merokok mbak, daripada minum - minuman keras. Kalau merokok kan cuma bau asap saja.).


Masalah beres ketika anak mencoba rokok sekali dua kali kemudian tidak doyan. Lalu bagaimana jika anak ternyata malah suka dan ketagihan? Seperti kisah viral Ardi Rizal pada tahun 2010 lalu. Bocah cilik yang sudah dijejali rokok oleh ayahnya sejak usia 18 bulan hingga kecanduan dan sanggup menghisap 40 batang rokok dalam sehari. Sungguh miris.

Padahal resiko kesehatan yang muncul pada perokok usia pra remaja lebih tinggi karena daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa. Resikonya antara lain mulai dari sakit kepala, iritasi saluran pernapasan, infeksi saluran pernapasan akut, hingga pneumonia. Dan yang tak kalah penting, rokok juga dapat menyebabkan stunting (gangguan pertumbuhan) yang merupakan salah satu problem utama gizi anak di Indonesia.

Tidak hanya resiko kesehatan saja, rokok juga mempengaruhi penampilan karena dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan gigi menguning, bibir menghitam dan wajah terlihat tua.

Titik berat permasalahan rokok pada anak tentunya bukan hanya anak - anak yang merokok pada usia belia saja. Kita juga perlu perhatikan anak - anak perokok pasif yang tidak berdaya karena hidup di sekeliling perokok aktif. Di timeline media sosial sendiri beberapa kali pernah saya dapati berita - berita yang memilukan hati tentang anak - anak yang menjadi korban asap rokok orang - orang sekitarnya. Mulai dari yang terkena asma hingga pneumonia akut. Dan yang menyebarkan berita - berita tersebut siapa lagi kalau bukan ibu atau ayahnya yang merokok itu. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mengingatkan tentang bahaya rokok pada anak - anak meskipun mereka hanya menghirup asap atau bahkan hanya sekedar menghirup residunya saja.


Pada intinya, tembakau pada rokok berefek negatif terhadap kesehatan serta lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Karena kebiasaan merokok itu ibarat memelihara bom waktu yang siap meledak kapan saja, apa jadinya jika generasi muda Indonesia banyak yang sakit - sakitan karena merokok pada usia produktifnya nanti? Karena untuk pembangunan bangsa yang berkelanjutan ini kita butuh generasi muda yang sehat dan berkualitas, maka sudah selayaknya rokok harus dijauhkan dari generasi muda kita. Dan untuk mewujudkan hal ini, tentunya kita butuh dukungan kuat dari pemerintah bukan?


Upaya pengendalian konsumsi rokok


Sebenarnya usaha untuk mengendalikan konsumsi rokok bukannya tidak dilakukan. Pemerintah sendiri sudah mengesahkan PP No. 109 tahun 2012 atau PP Tembakau yang bertujuan melindungi, serta meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat Indonesia terhadap bahaya rokok. Dimana salah satu peraturannya berisi tentang larangan menjual rokok kepada anak dibawah usia 18 tahun.

Kita juga bisa melihat bahwa sekarang ini iklan rokok jam tayangnya sudah dibatasi. Bungkus rokok juga sudah dibuat seram untuk menakut - nakuti perokok pemula. Begitupun dengan sponsor dari perusahaan rokok yang hanya boleh diperkenankan untuk acara tertentu saja. Bisa dibilang PP Tembakau ini adalah upaya pemerintah untuk menekan angka konsumsi rokok di Indonesia.

Namun ternyata semuanya mental dan tidak efektif. Kenyataannya anak - anak tetap bebas mengkonsumsi rokok karena akar permasalahannya hanya satu. Harga rokok murah dan terjangkau.

Jadi, solusinya hanya satu,


#RokokHarusMahal


#rokok50ribu


Karena ketika harga rokok mahal, warung - warung kecil akan mikir keras untuk menjualnya. Sehingga peredaran rokok juga turut berkurang.

Karena ketika harga sebatang rokok dibilang mahal oleh anak - anak, mereka akan lebih memilih es krim atau susu.

Mahal itu relatif. Namun dengan melihat perbandingan harga rokok negara - negara lain lewat gambar di bawah ini, kita bisa menyimpulkan sendiri bagaimana murahnya rokok di Indonesia, dan berapa harga yang sepantasnya harus dilabelkan pada sebungkus rokok agar anak - anak tak sanggup membelinya dengan uang jajan mereka.



Wujudkan denormalisasi merokok


Pemerintah rupanya menangkap kegelisahan masyarakat akan murahnya harga rokok dan menjawabnya dengan menaikkan cukai rokok hingga 10.4% pada tahun 2017 lalu. Namun kenaikan tersebut juga tidak menaikkan harga rokok secara signifikan, karena harga rokok masih saja terjangkau oleh anak.

Maka dari itu banyak elemen masyarakat seperti aktivis anti tembakau, Lentera Anak, dan lain lain, yang berusaha menyuarakan kampanye #RokokHarusMahal dan terus menerus memperjuangkan hal ini. Kamu sendiri juga bisa berpartisipasi dalam kampanye #RokokHarusMahal dengan menandatangani petisinya di Change.org

Sambil menanti mimpi harga rokok mahal yang mudah - mudahan bisa segera terwujud, secara sistem kita bisa melakukan upaya - upaya untuk melindungi anak dari jeratan rokok, antara lain :

Jangan merokok depan anak. Terutama orangtua, guru dan orang terdekat yang menjadi role model anak. Mereka harus menyadari sepenuhnya bahwa segala tindakannya bisa menginspirasi anak, termasuk dalam hak merokok.

Jangan menyuruh anak untuk membeli rokok. Jangan pernah lagi meminta anak untuk membeli rokok. Karena hal ini bisa mendorong rasa ingin tahu anak dan membuatnya ingin mencoba rokok suatu ketika.

Edukasi pada para penjual rokok untuk tidak menjual rokok pada anak dengan alasan apapun. Mulai dari lingkungan sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta tolong kepada warung - warung di sekitar kita untuk tidak menjual rokok pada anak - anak.

Pendekatan persuasif pada anak yang merokok. Contohnya pada kasus adik saya Erza. Keluarga tidak melarang, namun terus menerus memberikan pemahaman tentang bahaya merokok. Memang sih ia masih merokok saat tertentu saja. Namun setidaknya ia bukan pecandu rokok. Dan sampai sekarang keluarga juga masih terus mengingatkan dan berharap suatu saat Erza bebas dari rokok.

Pendekatan persuasif pada orangtua yang merokok. Hal ini bisa dilakukan oleh pasangan atau anak perokok. Pendekatan lewat anak bisa jadi lebih efektif. Karena orangtua yang merokok mungkin akan lebih tersentuh hatinya ketika anak sendiri yang meminta untuk berhenti merokok.

Mengefektifkan UU no 36 tahun 2009 pasal 115 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Dimana disana dicantumkan bahwa yang termasuk dalam KTR antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. Sebagai ibu 2 orang balita, saya tentunya bahagia sekali bila disambut dengan spanduk atau stiker bertuliskan "Dilarang merokok disini." ketika datang ke tempat - tempat tersebut . Dan untuk mewujudkan KTR yang efektif tentunya butuh keterlibatan pihak - pihak yang terkait, seperti Pemda, pengelola tempat dan lain - lain. Namun saya sangat menggarisbawahi bawahi soal angkutan umum yang termasuk dalam KTR. Karena kenyataannya angkutan umum sangat lekat dengan sopir dan kernet yang merokok. Saat menaiki bus umum, tak jarang saya mendapati seorang penumpang yang menegur penumpang lain yang merokok, namun dijawab dengan enteng, "Kalo nggak mau bau asep naik taksi aja mbak.".

Saya tidak benci perokok. Saya hanya benci ketika anak - anak yang menjadi korbannya. Yuk, suarakan kepedulian kita, lindungi anak - anak dari bahaya tembakau ini dengan tandatangani petisi #RokokHarusMahal di Change.org. Atau share artikel ini di laman media sosialmu.

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Serial Blogger yang diselenggarakan oleh KBR. Dengan sumber materi program radio Ruang Publik KBR #RokokHarusMahal, episode 6, "Lindungi Anak Indonesia, Rokok Harus Mahal", dipandu Arin Swandari dengan narasumber :



  • Dr Santi Martini, dr. M Kes (Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga)

  • Lisda Sundari (Ketua Yayasan Lentera Anak Indonesia)

  • Dr Sophiati Sutjahjani, M Kes (Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur)

2 Responses to "Selamatkan Generasi Muda dari Bahaya Tembakau, Rokok Harus Mahal"

  1. di perth kemarin rokok bisa 150 ribuan :D

    ReplyDelete
  2. Kalo sekarang udah 300 ribuan koh.. buat emak2 bisa buat belanja mang sayur seminggu 😁

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel