#CerdasDenganUangmu Lewat Konsisten Menabung



Sadarkah kawan, bahwa saat ini kita hidup pada era dimana kebutuhan tidak hanya soal cukup sandang, pangan dan papan. Kita juga hidup di era media sosial dimana terkadang trend yang viral menjadi acuan. Hingga akhirnya apa yang kita tampilkan hanya sekedar untuk menunjukkan status dan eksistensi agar terlihat kekinian. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi dan internet yang berkembang pesat. Hingga tibalah kita pada era digital yang menyajikan berbagai kemudahan dalam melakukan banyak hal.

Diantara berbagai golongan masyarakat digital, generasi milenial disebut - sebut sebagai yang paling konsumtif. Selain karena dikenal lebih melek teknologi, mereka juga dianggap memiliki influencer yang turut mempengaruhi gaya hidup dan perilaku konsumsi sehari - hari.

Lebih - lebih first jobber yang baru merasakan nikmatnya berpenghasilan selepas lulus kuliah. Tak ada tanggungan dan hidup mandiri membuat mereka bebas menggunakan penghasilannya untuk apa saja. Jika tak dibarengi dengan kesadaran menabung dan bekal perencanaan keuangan yang baik, bisa dipastikan uang gajinya selalu amblas setiap bulan. Kalaupun menabung, kebanyakan untuk tujuan jangka pendek dan tak jauh untuk hal – hal yang sifatnya konsumtif, seperti untuk membeli gadget baru, tas bermerk, atau untuk travelling. Padahal kesempatan menabung bagi first jobber terbuka lebar, mengingat umumnya mereka adalah fresh graduate, masih single, belum berkeluarga, dan hanya perlu memikirkan kebutuhan diri sendiri saja.

Saya pernah mendapati beberapa teman yang tak punya tabungan, padahal dirinya sudah bekerja beberapa bulan, bahkan ada yang beberapa tahun. Saya sendiri juga pernah mengalami masa – masa tak punya tabungan. Yaitu saat menjadi mahasiswa yang masih mengandalkan uang bulanan dari orangtua untuk hidup sehari - hari.

Jika dipikir – pikir lagi, seharusnya saya bisa menabung karena transferan dari orangtua selalu lancar dan lebih dari cukup. Saat itu, eranya tidak sedigital sekarang. Handphone saja hanya bisa dipakai untuk telepon dan sms-an. Namun hasrat jajan, jalan dan kulineran yang tinggi tetap saja menggerus uang bulanan hingga membuat dompet kering kerontang di akhir bulan. Jadi ketika tak punya tabungan, sepertinya kurang tepat jika menyalahkan perkembangan jaman yang semakin digital. Salahkan diri sendiri yang tak lihai mengatur keuangan.

Karena sejatinya menabung itu hanya soal niat dan habbit atau kebiasaan. Selama tak punya niat untuk menabung ditambah dengan gaya hidup yang konsumtif, sebesar apapun penghasilan yang masuk rekening tiap bulan, niscaya tak akan pernah cukup untuk memenuhi hasrat hidup duniawi.



#CerdasDenganUangmu yuk. Menabung tidak hanya mempermudah kita dalam mencapai goal. Jika berpikir jauh ke depan, kita tak bisa menebak dan tak benar – benar tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sehingga butuh bekal dan perencanaan untuk mengatasi hal – hal yang mungkin terjadi diluar perkiraan. Menabung dan perencanaan keuangan tentunya penting dilakukan sebagai bentuk keamanan finansial yang dapat membantu di saat – saat kesulitan. Kemudian, selain dapat menghindarkan diri dari jeratan hutang dan menjaga keseimbangan finansial agar tidak over spending, memiliki tabungan juga akan membuatmu lebih bahagia dan mengurangi resiko stress. Coba bayangkan jika saat ini kamu punya tabungan sebesar 100 juta. Bagaimana perasaanmu?


Setelah lulus kuliah saya tak punya tabungan dan orangtua masih saja mengirimkan uang bulanan karena saya belum bekerja dan berpenghasilan. Saat itu mulai muncul rasa malu karena masih saja bergantung pada mereka. Saya bertekad untuk mandiri dan berjanji pada diri sendiri, bahwa saat bekerja nanti berapapun penghasilan yang dimiliki, saya harus bisa menabung dan mengerem gaya hidup yang sedikit boros.

Akal dan pikiran berkata, sudah cukup senang – senangnya, saatnya memikirkan masa depan. Saya yakin, belum terlambat untuk mulai menabung selama dilakukan dengan kemauan yang kuat dan sungguh - sungguh.

Awal 2009, saya mendapatkan pekerjaan pertama sebagai karyawan baru di salah satu perusahaan IT Consultant. Konsistensi niat untuk mulai menabung langsung diuji karena gaji yang diharapkan tidak sesuai dengan yang ditawarkan. Hidup di Jakarta dengan gaji bersih Rp. 2.500.000,- per bulan, bisa apa gue? Bisa nabung berapa gue?

Nyali sempat ciut pada awalnya. Rasanya nggak mungkin bisa menabung dengan gaji Rp. 2.500.000,- per bulan. Bukannya di Jakarta segalanya serba mahal? Pada akhirnya semua kembali kepada niat. Saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyerah dan berusaha menabung.

Hal pertama yang saya lakukan setiba di Jakarta adalah mencari tempat tinggal yang strategis dengan lingkungan yang menyediakan biaya hidup murah. Beruntung saya menemukannya, sebuah kos murah di daerah Pangkalan Asem Cempaka Putih. Hanya 350 ribu sebulan, dengan lingkungan sekitar yang ramai dengan penjual makanan, warteg, dan kawan - kawan. Untuk menuju kantor juga hanya perlu naik angkot sekali saja. Terima kasih yang bertubi - tubi untuk teman SMA saya Lilis, yang sudah sangat membantu sekali dalam hal ini.

Dan setelah berhitung, inilah kiat - kiat yang saya lakukan agar tetap bisa menabung meski gaji pas – pasan.


Menetapkan tujuan menabung


Dunia kerja benar – benar membuka cara pandang dan wawasan. Saya sungguh – sungguh mulai memikirkan masa depan, bertanya – tanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya diinginkan di masa mendatang. Dan sebagai seorang wanita, keinginan terbesar saya adalah membangun sebuah keluarga. Membangun keluarga saya jadikan motivasi untuk menabung, karena saat mulai berkeluarga nanti saya yakin akan banyak kebutuhan besar yang menanti. Seperti untuk biaya DP rumah, membeli berbagai peralatan rumah tangga untuk mengisi rumah, dan semua itu tentunya butuh biaya yang tidak sedikit.


Sebelum mulai menabung, tetapkan tujuan menabung terlebih dahulu. Sebesar – besarnya, setinggi – tingginya. Jadikan tujuan tersebut sebagai motivasi agar tetap semangat menabung.

Menentukan Target


Saat niat menabung mulai datang, saya banyak membaca artikel – artikel tentang perencanaan keuangan. Ada sebuah artikel yang cukup menginspirasi dalam mengatur keuangan. Isinya kurang lebih begini “Bagilah pendapatanmu jadi 5 bagian, 2 bagian ditabung, 2 bagian diinvestasikan, dan 1 bagian untuk dikonsumsi”. Dengan gaji yang pas – pasan, point investasi sepertinya belum bisa saya lakukan. Setelah melakukan sedikit kalkulasi, akhirnya saya putuskan untuk tetap membagi pendapatan  menjadi 5 bagian, dengan perincian 2 bagian ditabung, 3 bagian dikonsumsi. Dengan kata lain, target menabung  tiap bulan adalah sebesar 1 juta rupiah.

Dalam membuat target menabung tentunya antara orang yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Tergantung tujuan, kebutuhan, beban biaya hidup, juga jumlah penghasilan. Tak apa menabung sedikit asalkan rutin dan disiplin. Syukur – syukur bisa menabung banyak dan rutin. Saya sendiri memang menentukan target yang tinggi saat mulai serius menabung. Salah satunya karena ingin menantang diri untuk hidup hemat dan prihatin.


Tentukan target menabung, tak apa menabung sedikit. Yang penting rutin dan disiplin.

Menabung di awal


Agar proyek menabung dapat terlaksana dengan baik, saya memisahkan rekening tabungan dari rekening gaji. Rekening tabungan ini tak ber-ATM sehingga uangnya tak bisa diambil sewaktu – waktu. Dan ketika saat gajian tiba, hal pertama yang saya lakukan adalah mentransfer rekening tabungan sesuai target yang sudah dibuat, yaitu sebesar 1 juta rupiah. Lagi – lagi, butuh niat dan disiplin tinggi dalam hal ini.


“Do not save what is left after spending, but spend what is left after saving. (Warren Buffet). ”

Mengatur pengeluaran dengan sistem amplop dan berhemat


Setelah menabung di awal, saya meninggalkan tabungan tipis – tipis sebesar 100 ribu rupiah di rekening gaji untuk dana darurat, dan mengambil sisanya untuk biaya hidup sehari - hari. Agar lebih terkontrol, biaya hidup sebesar 1.4 juta rupiah perbulan tersebut saya pecah ke dalam 4 amplop, masing – masing amplop untuk kebutuhan seminggu. Dengan kata lain 350 ribu rupiah untuk seminggu, dan itu harus cukup untuk biaya makan, transportasi, hangout dengan teman di akhir pekan, dan kebutuhan lainnya. Cukup tidak cukup ya harus dicukup – cukupkan. Mau tidak mau saya mesti berhemat dalam segala hal, serta membangun kebiasaan baru agar bisa lebih berhemat lagi. Mulai dari sarapan susu kental manis dan roti tawar, tidak lagi belanja baju dan tas, hingga puasa senin kamis. Kemudian, tidak lagi belanja bulanan di Swalayan. Sebagai gantinya, saya hanya membeli barang – barang di warung atau minimarket terdekat ketika butuh saja. Saya juga selalu membawa bekal makan siang ke kantor yang dibeli saat berangkat kerja dari warteg murah meriah dekat tempat tinggal. Belajar hidup hemat awalnya berat. Sangat berat. Namun lama - lama akhirnya terbiasa.

Untuk biaya kos – kosan, saya sangat berterima kasih pada orangtua yang masih saja kekeuh ingin membiayai, meskipun sudah menolak berkali – kali.


Mengatur pengeluaran dengan sistem amplop ternyata cukup ampuh dalam menjaga keseimbangan finansial. Karena kita bisa melihat dengan jelas berapa uang yang sudah dihabiskan dan berapa uang yang tersisa hingga akhir pekan.

Berhenti menumpuk barang


Saat lulus kuliah dan hendak kembali ke kampung halaman di Ungaran, butuh 1 mobil penuh untuk mengangkut semua barang – barang kos. Itupun masih ada yang ditinggal. Saya terhenyak sendiri dengan begitu banyak barang yang dimiliki, mulai dari baju, buku, pernak – pernik lucu, belum lagi tas – tas dan sepatu. Padahal sebagian besar tak terpakai, bahkan banyak buku – buku yang masih rapi terbungkus plastik karena belum sempat dibaca. Jika dirupiahkan, mungkin nilainya bisa jutaan. Lebih baik uangnya ditabung saja bukan? Pada saat itu saya merasa loss, benar – benar loss. Berkaca dari hal tersebut, saya berjanji untuk belajar meletakkan kebutuhan diatas keinginan. Sekali – kali saya akan tetap jalan – jalan dan hangout dengan teman, namun hanya sekedar untuk cuci mata saja. Jika nantinya tergoda untuk membeli barang, yang saya lakukan adalah stop and think, stop and think. Perlu tidak? Sungguh dipakai atau nasibnya hanya akan jadi pajangan? Selain menjadi lebih hemat, berhenti menumpuk barang juga membuat kamar kosan lebih lega dan nyaman. Jika suatu saat harus pindah tempat tinggal, kita juga tidak akan direpotkan dengan banyak barang.


Berhenti menumpuk barang membuat kita belajar untuk membeli barang – barang yang memang dibutuhkan saja dan membuat neraca pengeluaran lebih terkontrol.

Selalu membawa minum dan snack mengenyangkan dari rumah


Kemanapun saya pergi, baik itu ke kantor atau hangout bersama teman, botol air minum dan snack tak pernah ketinggalan. Tujuannya untuk menghindari jajan. Air putih juga lebih sehat dibanding es jely kekinian, minuman kemasan, dan membuat badan terhidrasi dengan baik. Saat lapar di jalan, alih - alih membeli jajan, bekal snack mengenyangkan seperti biskuit gandum atau kurma selalu tersedia di tas untuk mengganjal perut.




Selain lebih hemat, kebiasaan membawa minum dan snack mengenyangkan juga menjaga pola hidup sehat.

Tidak kalap saat bonusan datang


Pembicaraan yang sering terjadi di kalangan rekan - rekan kantor ketika akan mendapat bonus gaji biasanya seperti ini, "Bonusnya mau dipake buat apa ya?", atau begini, "Habis bonusan ntar kita plesir yuk.". Ya, terkadang setelah menerima bonus gaji kita merasa (sedikit) kaya raya karena transferan yang masuk ke rekening gaji lebih besar dari biasanya. Sah - sah saja jika bonus yang kita dapat mau dipakai untuk beli handphone baru atau jalan - jalan. Tapi saya sendiri tetap berusaha untuk meletakkan kebutuhan diatas keinginan dan mengingat - ingat lagi tujuan menabung, meskipun gaji bonus memang sedikit menggoda iman.


Stop and think, stop and think. Bukankah lebih bijak apabila ditabung saja bonusnya?

Zakat dan sedekah


Ada hak orang lain di setiap gaji dan penghasilan yang kita miliki. Meski gaji pas - pasan dan kita sendiri merasa kurang, tetap keluarkan zakat dan sedekah agar hidup lebih berkah.


Yakinlah bahwa zakat dan sedekah tidak akan mengurangi harta dan tabungan. Justru dari sanalah pintu rizki akan terbuka lebar.



Dengan melakukan kiat - kiat diatas, alhamdulillah target menabung tiap bulan saat itu selalu terpenuhi. Saya sudah membuktikan sendiri. Meskipun gaji pas - pasan, menabung bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Semuanya kembali pada niat, tekad dan usaha.

Meskipun penghasilan mulai meningkat, 8 komitmen menabung ini terus saya pelihara. Lebih - lebih setelah berumah tangga. Sebagai istri, saya harus lebih lihai lagi dalam mengatur keuangan rumah tangga karena banyak sekali kebutuhan di masa depan yang harus dipersiapkan sejak dini, mulai dari dana pendidikan anak, dana pensiun, dana haji, dan lain - lain.

Investasi adalah salah satu langkah tepat untuk mempersiapkan kebutuhan - kebutuhan besar di masa depan nanti. Dan menabung adalah langkah awal untuk memulai berinvestasi.

Dengan gigih menabung,  di tahun ke 6 pernikahan alhamdulillah kami sekeluarga sudah memiliki rumah kedua. Rumah kedua ini adalah bentuk investasi dan financial security keluarga kami yang tentunya akan sangat berguna di saat - saat sulit nanti.

Untuk investasi lain, bisa simak artikel saya berikut ini 

Pertanyaan berikutnya adalah, manakah tempat menabung yang paling aman?


Saat terjadi krisis moneter tahun 1998, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan menurun. 16 Bank yang dilikuidasi pada saat itu membuat masyarakat berlomba - lomba menarik dana yang tersimpan di Bank hingga terjadilah penarikan dana besar - besaran atau rush.

Namun setelah kehadiran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), nasabah Bank bisa bernafas lega karena LPS memiliki fungsi untuk menjamin simpanan nasabah penyimpan serta turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan. Saya sendiri selalu menabung di Bank dan tak merasa khawatir atau was - was lagi karena ada LPS yang menjamin nilai simpanan kita hingga 2 miliar.

 #CerdasDenganUangmu

0 Response to "#CerdasDenganUangmu Lewat Konsisten Menabung"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel