Cinta Terencana Dulu, Keluarga Bahagia Kemudian




Tidak bermaksud menggurui, selain hanya sekedar berbagi..

8 Tahun yang lalu selembar mimpi dan harapan pernah ditulis, tentang apa - apa yang ingin diraih di masa mendatang. Saat itu usia saya hampir menginjak seperempat abad, dan list yang bertengger di urutan pertama adalah menikah di usia 25 tahun. Meski menyandang status jomblo abadi dan belum pernah  pacaran, saya terus meyakini dalam hati bahwa dengan banyak doa dan usaha, Tuhan akan segera mempertemukan saya dengan sang pangeran impian *tsaah. Akhirnya Tuhan menakdirkan saya untuk menikah di usia di 26 tahun. Meleset dari target, tapi tak mengapa.

Jauh sebelum menikah, semenjak remaja saya sering membayangkan bagaimana rasanya menikah. Bagaimana rasanya menjadi seorang istri. Bagaimana rasanya memiliki anak dan  "bagaimana" lainnya perihal kehidupan berumah tangga. Ketika menjadi mahasiswa rantau, tak jarang obrolan ringan macam ini digelar di sudut kamar kosan dan dibahas dengan heboh bersama 3-4  kawan sambil bersenda gurau hingga larut malam.

Jauh sebelum menikah, saya juga sudah bercita - cita menjadi ibu rumah tangga. Rasanya seru sendiri membayangkan keseharian saya nantinya. Menyiapkan masakan untuk suami, membawakan bekal untuknya, merawat dan bermain - main dengan anak - anak yang lucu. Sepertinya sangat menyenangkan.

Jika kamu masih membayangkan bahwa menikah adalah fase kehidupan yang indah dan penuh kebahagiaan, tunggulah hingga mengalaminya sendiri.

Dan akhirnya yang saya rasakan setelah 6 tahun berumah tangga adalah, menikah itu berat, mungkin Dilan juga nggak akan kuat jika tidak "merencanakan cinta" terlebih dahulu dengan sebaik - baiknya.

[caption width="720" align="aligncenter"]Cinta TerencanaDilan dan Milea (Sumber : instagram BKKBN)[/caption]


# Cinta Terencana 1 : menyiapkan mental, fisik dan finansial


Boleh jadi menikah adalah tujuan hidup dan pencapaian terbesar bagi  banyak orang, termasuk saya. Malah bagi sebagian orang, ketika memutuskan untuk menikah artinya ia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Misalkan sudah puas menikmati masa mudanya.

Menikah bukan hanya soal rasa cinta saja. Karena ketika memutuskan untuk berkeluarga, artinya kita siap menyambut babak baru dalam kehidupan, siap mengambil peran dan tanggung jawab lebih besar dan tidak lagi berfokus pada diri sendiri. Karenanya menikah sangat butuh kesiapan mental.

Setelah mental, kematangan umur dan kesiapan fisik juga perlu diperhatikan karena terkait dengan kondisi biologis dan psikologis pasangan menikah. Menikah terlalu dini atau terlalu lambat, tentunya akan berpengaruh terhadap kualitas kehidupan keluarga. Idealnya, masa yang paling baik untuk berumah tangga adalah mulai usia 21 tahun pada wanita, dan usia 25 tahun pada pria.

Kita juga harus berpikir logis bahwa menikah tak cukup modal "I love you" saja. Terkait dengan perencanaan keuangan, banyak hal - hal besar yang perlu dipikirkan untuk masa depan, sehingga menikah juga butuh kesiapan finansial.


# Cinta Terencana 2 : Menetapkan tujuan berkeluarga


Beberapa waktu yang lalu jagad dunia maya sempat dihebohkan dengan berita 2 remaja SMP yang mengajukan diri untuk menikah ke KUA. Yang membuat tepok jidat adalah,  alasan calon mempelai wanita yang ingin segera menikah karena takut tidur sendiri. Duh dek.

Remaja yang belum memiliki kematangan berpikir dan hanya tahu soal rasa cinta dan nafsu saja mungkin belum sepenuhnya memahami bahwa berkeluarga bukan hanya soal tinggal bersama orang yang dicintai saja.

Katakanlah ingin melaksanakan tuntunan agama. Menguatkan ibadah. Menjauhkan diri dari dosa dan zina. Ikut serta melestarikan peradaban manusia. Atau ingin mempersiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Selain karena sudah menemukan lelaki yang tepat, salah satu tujuan saya menikah adalah sebagai sarana untuk mencari sebanyak - banyaknya pahala, karena saya percaya segala kebaikan - kebaikan dalam pernikahan adalah bernilai ibadah. Dengan menikah juga saya ingin mencari ketenangan jiwa dan ingin membentengi diri dari fitnah dan godaan lelaki yang terkadang membuat hati tidak nyaman. Dan memang, menikah membuat hati lebih tenteram dan nyaman.

Mengapa ingin berkeluarga? Kita perlu alasan yang kuat agar mahligai pernikahan nanti tidak mudah goyah di tengah jalan.


# Cinta Terencana 3 : Memahami peran dan tanggung jawab setelah berkeluarga


Setelah terucap ijab kabul, seorang lelaki sah menjadi suami dan seorang wanita sah menjadi istri.

Seorang suami harus menyadari sepenuhnya bahwa ia adalah seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab mencari nafkah, mengayomi keluarga, menjadi imam dan memberikan penghidupan yang layak bagi keluarganya.

Begitupun seorang istri, juga harus memahami bahwa kini ada suami dan keluarga yang harus dijaga kehormatannya, membelanjakan harta dengan sebijak - bijaknya, dan apa - apa yang dilakukannya juga harus dengan kerelaan suami.

Dan yang terpenting, baik suami maupun istri juga harus memahami hak - hak pasangannya.


# Cinta Terencana 4 : merencanakan jumlah anggota keluarga


Dulu setiap kawan saya bertanya, "Ingin punya anak berapa?", saya selalu menjawab ingin punya anak 5 biar rumahnya rame yang kemudian diamini olehnya.

Padahal jika dipikir secara realistis, membesarkan anak tidaklah mudah. 2 hal krusial yang harus dipikirkan untuk mencetak generasi bangsa yang berkualitas adalah pendidikan dan gizinya. Dan semakin banyak anak yang dimiliki bisa saja mengurangi kualitas pendidikan dan gizi yang diberikan pada anak.

Karena itulah, setelah menikah aku dan suami  akhirnya sepakat untuk cukup memiliki 2 anak saja, mengikuti program pemerintah. 2 anak untuk menggantikan ayah dan ibunya, agar populasi penduduk dunia juga tetap terkontrol.

Sedangkan jarak kelahiran yang ideal antara anak pertama dan kedua adalah 2-5 tahun, agar anak pertama tercukupi kebutuhan ASI, gizi dan kasih sayangnya.


#Cinta Terencana 5 : Membekali diri dengan banyak ilmu


Pikiran cethek saya waktu masih gadis dulu adalah, jadi wanita harus pandai memasak, supaya saat berkeluarga nanti sudah lihai di dapur dan bisa menyenangkan hati suami dan anak. Bagaimanapun juga masakan ibu selalu memberikan kehangatan tersendiri bagi keluarga. Karenanya setiap mudik saat libur semester kuliah saya selalu belajar memasak ke mbah ART yang bekerja di rumah orangtua, supaya nanti bisa jadi ibu dan istri yang jago masak.

Padahal perbekalan yang dibutuhkan sebelum menikah bukan hanya soal ilmu memasak saja.

Ilmu tentang pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi
Sebagian orang mungkin tidak nyaman membicarakan hal ini. Namun pendidikan seks pranikah juga penting bagi pasangan yang hendak menikah. Seperti bagaimana adab - adab pergaulan suami istri yang baik, hal - hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat berhubungan, dan lain sebagainya.
Dalam berumah tangga, hubungan suami istri bukanlah hal yang tabu namun malah justru jadi kunci keharmonisan dalam rumah tangga. Dan komunikasi antar suami istri sangat dibutuhkan untuk menciptakan hubungan suami istri yang sehat.

Sedangkan kesehatan reproduksi erat kaitannya dengan keturunan yang hendak dimiliki. Sebelum menikah tak ada salahnya jika calon mempelai melakukan cek kesehatan reproduksi terlebih dahulu.

Tujuannya adalah agar ketika terdeteksi adanya gangguan, calon pasangan yang hendak menikah sudah mengetahui permasalahannya di awal dan bisa segera mengusahakan solusinya. Syukur - syukur jika sehat dan subur semuanya.

Ilmu komunikasi
Memang sudah bukan rahasia bahwa komunikasi adalah hal yang penting dalan sebuah rumah tangga.
Pengalaman pribadi dan survey kecil - kecilan yang saya lakukan pada beberapa pasangan menikah mengatakan bahwa tahun - tahun pertama pernikahan selalu penuh dengan drama. Masa pernikahan kenyataannya jauh berbeda dengan masa pacaran atau perkenalan yang terkadang penuh dengan pencitraan 😁.

Silang pendapat seringkali terjadi meskipun hanya dipicu hal - hal sepele saja. Masalah suami yang selalu hobi ngegame di malam hari saja bisa membuat sepasang suami istri diam - diaman hingga 3 hari 😁.

Kita yang terbiasa bertindak dengan pemikiran sendiri seringkali lupa ada hati lain yang butuh diperhatikan pendapatnya.

Karena menikah berarti menyatukan 2 kepala, untuk kebaikan keluarga, tak ada solusi lain dalam menyelesaikan permasalahan keluarga selain dengan merendahkan masing - masing egonya, belajar saling memahami keinginan pasangan serta belajar menerima kekurangan pasangan.

Ilmu parenting

Berani berbuat, berani bertanggungjawab. Berani memiliki anak berarti kita juga harus bertanggungjawab penuh terhadap penghidupan anak kita dengan memberikan segala hak - haknya hingga kelak mereka dewasa dan mampu mandiri.

Menjadi ayah atau ibu memang tidak ada sekolahnya, namun berbeda dengan masa orangtua kita dahulu, di jaman ini kita bisa dengan mudah mendapatkan wawasan tentang tata cara mengasuh anak dengan metode tertentu, hal - hal yang harus diperhatikan pada 1000 hari kehidupan anak, cara  menghadapi anak tantrum, mengatasi anak susah makan, dan banyak ilmu lainnya.

Bahkan kita juga dapat mengikuti kursus tentang parenting yang infonya banyak tersebar di dunia maya.

Meskipun belum menikah atau belum berencana menikah, tak ada salahnya jika kita membekali diri dengan ilmu parenting yang jelas sungguh bermanfaat bagi kehidupan berumah tangga nanti.

Ilmu perencanaan keuangan
Kecukupan finansial merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan berumah tangga. Karena sandang, pangan, papan, pendidikan anak dan liburan keluarga, semuanya terukur dengan uang.
Perencanaan keuangan dalam keluarga perlu diperhatikan sebaik - baiknya. Dimulai dengan mengatur pengeluaran bulanan, menyisihkan pendapatan untuk ditabung, berinvestasi untuk jangka panjang atau merintis bisnis untuk persiapan

Pada akhirnya, hidup berumahtangga adalah proses belajar seumur hidup dan tidak terbatas pada ilmu - ilmu diatas saja. Namun tak ada salahnya jika kita mempersiapkannya sejak dini.

***

Sedang berpikir untuk menikah dan berkeluarga? Yakinlah, keluarga bahagia itu dapat terwujud dengan Cinta Terencana.

Cinta Terencana adalah program dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana nasional (BKKBN) yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya para remaja tentang pentingnya perencanaan dalam berkeluarga.

0 Response to "Cinta Terencana Dulu, Keluarga Bahagia Kemudian"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel