Cinta Rupiah untuk Indonesia yang Lebih Berdaulat

Hidup kita selalu terikat beragam transaksi, dan selama kita tinggal di bumi pertiwi, rupiahlah yang akan selalu menyertai setiap perjalanan transaksi ini. Karena rupiah hadir di negeri ini bukannya tanpa jerih payah. Berterima kasihlah kepada para pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa. Karena tanpa jasa mereka, rupiah kini ada dalam genggaman kita sehari - hari.

Dalam selembar rupiah kita bisa mengingat sejarah. Sejarah perjuangan para pahlawan yang kini gambarnya turut diabadikan dalam lembar - lembar rupiah. Dalam selembar rupiah ada cerita. Cerita tentang ciri khas bangsa yang dapat kita dongengkan kepada anak cucu kita. Bahwa mereka hidup di negeri Khatulistiwa yang indah dan terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Dari Pulau Nias sampai Pulau Rote, dengan beraneka ragam suku, bahasa dan budaya.

Lebih dari sekedar alat tukar jual beli, rupiah adalah simbol kedaulatan bangsa yang mestinya turut kita jaga, kita lindungi, dan kita cintai. Cinta yang bisa hadir dalam wujud yang berbeda namun tetap dengan rasa yang sama. Rasa cinta Indonesia.

[caption width="1440" align="aligncenter"] Ada sejarah dan cerita dalam selembar rupiah[/caption]


Bapak


Kalau ada yang mengenalku sebagai manusia yang perhitungan, tak suka nongkrong, kudet dan tak kekinian, tolong salahkan bapakku. Sejak mengenal uang saku, bapak selalu mengajariku berhemat dan tak konsumtif. Terbukti, meskipun kedua orangtuaku tergolong mampu, mereka tak pernah memanjakanku dengan mainan mahal atau barang - barang mewah. Terkadang aku berpikir mereka pelit, namun lama - lama aku sadar semua itu untuk kebaikanku.



"Nduk, ini uang jajanmu, jangan lupa yang 100 ditabung ya.", begitu katanya hampir setiap waktu.


Seringnya aku menganggap nasihat itu angin lalu. Lagipula uang sakuku juga pas - pasan, sehingga selalu habis untuk jajan. Celengan kodok yang ada di kamarku hampir tak pernah bertambah bobotnya. Selalu ringan kalau diangkat.

Namun karena doktrin yang terus menerus ditanamkan, lama - kelamaan aku jadi terbiasa menabung. Bagaimanapun juga, uang merupakan salah satu sumber daya dalam keberlangsungan hidup manusia. Jadi dengan berhemat dan menggunakan rupiah secara bijak, secara tidak langsung kita sudah menghargai nilai rupiah.

Bukan hanya itu saja, dengan menabung di bank sebenarnya kita turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Karena dengan semakin banyaknya warga yang gemar menabung, ratio tabungan masyarakat akan meningkat, begitupun dengan tabungan nasional. Dan tabungan nasional ini merupakan salah satu sumber investasi atau pembiayaan.



"Nabung'o dolar nduk. Nilainya naik terus itu."


Bapak akan terus menjadi bapak dan akan  tetap memberikan nasihat meskipun usiaku sudah tidak lagi muda. Tapi mohon maaf bapak, kali ini aku tidak setuju denganmu. Di satu sisi menabung dalam bentuk dolar memang menggiurkan, aku sendiri pernah tergoda sebenarnya. Tapi di sisi lain hal tersebut dapat melemahkan nilai rupiah. Jika banyak orang Indonesia yang berpikir seperti bapakku, dolar yang beredar di masyarakat akan semakin banyak. Permintaan dolar semakin tinggi sehingga menaikkan nilainya dan menjatuhkan nilai rupiah. Bisa bisa terjadi krisis moneter. Mimpi buruk yang pernah terjadi di negeri ini pada tahun 1998 silam. Aku bangga dengan rupiah, jadi aku akan tetap menabung dalam rupiah.

Jadi jika kamu mengaku nasionalis namun masih menyimpan tabungan dalam bentuk dolar, segera tukarkan dolarmu dengan rupiah.

[caption width="637" align="aligncenter"] Menabung dalam bentuk rupiah wujud cinta pada rupiah[/caption]

Ibu


Predikat manusia paling cerewet di muka bumi ini tentu saja kusematkan pada ibuku. Dengan ayah yang pendiam, ibu jadi terlihat super cerewet di mataku. Apapun itu seperti tak pernah lepas dari pengawasan dan komentarnya. Bahkan kepada tukang sayur sekalipun.



"Uangnya kok mesti uwel - uwelan gitu mbak Sum, aku pokoknya ndak mau kalo dikasih kembalian yang jelek - jelek.", kata ibu kepada Mbak Sum, tukang sayur langganan.


Biasanya, mbak Sum akan membalikkan komentar ibu dengan berkata bahwa duit itu biarpun jelek tetap saja ada harganya dan  dibutuhkan. Ibu memang selalu rapi dalam menyimpan uang dan paling tidak suka melihat uang yang dilipat, diremas, dicoret, distapler, apalagi basah karena tercuci. Katanya uang akan cepat rusak kalau diperlakukan dengan serampangan, lama - lama bisa kumal dan bau. Uang yang sudah kumal, bau, lebih - lebih sobek sebagian hingga menyisakan nomor serinya, seringnya akan berakhir dengan ditukar di bank. Ujung - ujungnya, pemerintah juga yang harus menanggung biaya pengadaannya kembali. Sementara pengadaan dan pendistribusian rupiah yang layak edar ke seluruh pelosok negeri bukan hal yang mudah dan murah. Tahukah kamu bahwa dalam setahun dibutuhkan sekitar 3 triliun untuk pengadaan uang baik kertas maupun logam. Jadi dengan merawat rupiah kita sudah membantu pemerintah dalam menghemat biaya pengadaan uang layak edar.



"Uang itu nyarinya susah mbok ya dieman - eman, disayang - sayang."


Sebenarnya kata - kata ibuku ada​ benarnya juga. Karena mata uang sendiri, rupiah kadang dianggap sebelah mata. Contohnya teman SD ku dulu yang begitu membanggakan uang 1 dolar pemberian pamannya. Pada saat itu 1 dolar senilai dengan Rp. 2500,- ,namun oleh temanku uang itu justru dilaminating karena dianggap berharga. Ya begitulah, terkadang bagi sebagian orang, sesuatu yang berasal dari luar negeri masih dianggap branded dan wah, termasuk mata uang asing.

[caption width="800" align="aligncenter"] Perlakukan rupiah dengan baik dan hati - hati[/caption]

Suamiku


Suamiku adalah penggemar sejarah, terutama sejarah kerajaan. Kemampuannya menjelaskan rentetan peristiwa lengkap dengan tahun kejadiannya secara rinci seringkali membuatku keheranan. Terkadang ia sering mengajakku berdiskusi dan aku pun akan menanggapinya dengan ilmuku yang dangkal. Seperti ketika ia menjelaskan tentang sejarah keluarga Rothschild, yang merupakan cikal bakal berdirinya  Bank, yang kemudian merembet hingga diskusi perekonomian negara.



"Kenapa harga - harga barang tu naik terus tiap tahun?", tanyaku penasaran.


Suamiku menjelaskan bahwa hal ini dinamakan inflasi. Inflasi itu fenomena ekonomi yang terjadi secara natural karena adanya permintaan dan penawaran, dan akan terus terjadi selama sistem ekonomi berjalan. Inflasi tak selamanya buruk, karena dalam takaran tertentu inflasi justru memicu perkembangan ekonomi. Namun seringnya, inflasi dikait - kaitkan dengan nilai riil rupiah yang turun atau nilai tukar rupiah yang melemah.



"Ya gimana ya, nilai rupiah yang melemah itu banyak faktornya. Tapi kita bisa kok membantu pemerintah supaya nilai rupiah tetap stabil.", terang suamiku.


Suamiku ini suka berteori, namun kadang - kadang aku sering sepakat dengannya. Menurutnya, sebagai warga negara yang baik seharusnya kita turut menjaga stabilitas nilai rupiah supaya rupiah berdaulat di negerinya sendiri. Caranya simple saja, hanya dengan mencintai produk dalam negeri.

Awalnya aku sedikit ngeyel bahwa  membeli produk import seperti tas atau sepatu di mall tidak salah karena aku membayarnya dengan rupiah. Namun suamiku mengingatkan bahwa pembelian barang oleh importir pasti dilakukan dengan mata uang negara asal produk tersebut. Bukan rupiah.

Mencintai produk dalam negeri berarti mengurangi pembelian produk import. Atau bahkan stop membeli produk import. Dengan membeli produk dalam negeri, transaksi rupiah di dalam negeri akan lebih kuat dan nilainya lebih stabil. Terkadang produk import memang tak bisa dihindari karena tempe saja kedelainya masih impor. Produksi tas dalam negeri milik teman pun bahan benang rajutnya masih import. Tapi setidaknya kita paham bahwa pembelian barang - barang import juga dapat melemahkan nilai rupiah.


Aku


Sebagai manajer keuangan dirumah, tentunya aku banyak berurusan dengan urusan pembelian dan pembayaran. Dari belanja sayur, belanja supermarket, bayar air, listrik, pulsa sampai beli jajan buat anak, seperti halnya ibu - ibu yang lain, akupun melakukannya.



"Totalnya 300 ribu bu, mau cash atau debit?", kata petugas kasir swalayan.


Beruntung aku hidup di dunia digital dengan segala kemudahannya. Kemana - mana tak perlu bawa banyak uang meskipun harus keluar uang banyak. Cukup dengan selembar kartu transaksi apapun bisa berjalan dengan lancar. It's cashless era. Bertransaksi secara non tunai sebenarnya merupakan salah satu perwujudan cinta rupiah juga, karena rupiah tetap beredar  namun fisiknya tetap terjaga. Selain itu, transaksi non tunai juga mencegah peredaran uang palsu.

[caption width="694" align="aligncenter"] Gerakan nasional non tunai/dok.pribadi[/caption]
Bertransaksi tunai memang tidak bisa dihindari, seperti belanja sayur atau beli jajan di warung. Namun bertransaksi secara online atau menggunakan kartu debit tentunya lebih efisien. Contohnya saja, saat belanja ke supermarket kita tak perlu menghitung kembalian lalu merengut karena kembalian tersunat 100 atau 200 perak.

Sepertinya nilai 100 atau 200 rupiah tampak tak berharga. Karena beberapa kali aku melihat pemandangan orang yang menjatuhkan recehan kecilnya namun merelakannya begitu saja. Barangkali gengsi. Namun jika kita ingin tahu berharganya nilai 100 atau 200 rupiah, coba tanyakan pada  pedagang warung eceran atau penjual gorengan di desa - desa, karena 100 atau 200 rupiah bisa saja laba dari setiap barang yang mereka jual. Mungkin kita perlu belajar pada mereka yang begitu menghargai rupiah hingga nilai terkecil.


Cinta rupiah bisa dilakukan dengan cara yang mudah. Dengan selalu menggunakan rupiah di wilayah NKRI, dengan selalu memastikan uang yang kita pegang itu asli dengan cara dilihat, diraba dan diterawang, itu saja sudah merupakan salah satu bentuk cinta rupiah. Sebagai warga negara Indonesia, lebih - lebih generasi muda, sudah sepatutnya kita ikut mensukseskan gerakan cinta rupiah. Tapi selain itu, kenapa lagi sih kita harus cinta rupiah?

Rupiah adalah simbol kedaulatan

Sebagaimana diatur dalam UU no. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah merupakan salah satu lambang kedaulatan bangsa dan kebanggaan Indonesia. Jadi, sebagai alat pembayaran yang sah di negeri ini, sudah seharusnya rupiah kuat dan berdaulat di negeri sendiri. Seperti kata Presiden Joko Widodo dalam  peluncuran rupiah pada 12 Desember 2016 lalu,

"Setiap lembar rupiah adalah wujud kedaulatan kita sebagai negara bahwa kita tidak bertransaksi dengan mata uang negara lain. Setiap lembar rupiah adalah bukti kemandirian Indonesia, kemandirian ekonomi kita di tengah ekonomi dunia,"



Sebagai simbol kedaulatan negara, tentunya rupiah wajib berdiri tegak di negeri ini. Semangat cinta rupiah harus terus digalakkan untuk menjaga kokohnya rupiah di negeri kita.

Rupiah adalah alat pemersatu

Meskipun tak pernah tercatat secara resmi, tapi menurutku rupiah merupakan salah satu elemen pemersatu bangsa. Bagaimana tidak? Penggunaan rupiah sudah berjalan puluhan tahun dan mengakar sehari - hari ke seluruh penjuru negeri. Seperti halnya bahasa yang membuat orang Papua bisa berkomunikasi dengan orang Jawa, maka rupiah pun turut menyatukan semua masyarakat Indonesia dari berbagai penjuru dalam bertransaksi.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan republik Indonesia, nampaknya turut mendorong fungsi rupiah sebagai alat pemersatu bangsa. Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, seluruh transaksi yang dilakukan di wilayah NKRI ini wajib menggunakan rupiah. Segala pembayaran tidak boleh lagi menggunakan dolar, emas, perak, tapi hanya satu, rupiah.

Cinta rupiah berarti cinta Indonesia

Sejarah mencatat bagaimana bangsa ini begitu berdarah - darah dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Itulah kenapa dalam setiap lembar rupiah tersemat gambar para pahlawan Indonesia, untuk mengingat bahwa rupiah pun turut mengenang sejarah perjuangan bangsa.
Di jaman yang telah merdeka ini perjuangan bangsa dan wujud cinta tanah air hadir dalam bentuk yang berbeda. Semangat nasionalisme dan patriotrisme tak perlu lagi ditunjukkan dengan berperang atau angkat senjata. Dengan satu hal yang nampaknya sederhana, yaitu mencintai rupiah, maka sebenarnya kita sudah turut membanggakan dan mengangkat nama Indonesia di mata dunia.


Sepanjang hari hidup kita terikat dengan dengan beragam transaksi. Mulai dari beli nasi uduk di  pagi hari, hingga bayar angkot untuk pulang pergi. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, selama kita hidup di belahan bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia, hidup kita ini bergantung pada rupiah. Untuk benda yang sudah banyak berjasa dalam kehidupan kita sehari - hari, rasanya tidak berlebihan jika kita sedikit memberikan respect untuk rupiah.

Bukannya hendak mengagungkan benda mati. Namun perlu kita pahami kembali bahwa rupiah erat kaitannya dengan perekonomian bangsa ini. Perekonomian jelas memiliki peranan penting bagi suatu negara karena kesejahteraan rakyat, standar hidup masyarakat, ataupun kedudukan suatu negara di hadapan negara lain salah satunya di nilai dari pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai negara berkembang, Indonesia memang telah merdeka dan bangsa - bangsa lain pun turut mengakuinya, dengan kata lain Indonesia adalah negara berdaulat yang memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur wilayah, pemerintah serta elemen - elemen di dalamnya. Ya, Indonesia memang negara berdaulat, tapi apakah sudah berdaulat secara ekonomi?


Mari kita apresiasi kinerja dan kerja keras pemerintah dalam bidang ekonomi. Dapat kita rasakan sendiri bahwa pemerintah sedang gencar - gencarnya membangun infrastruktur disana sini yang bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi nasional dan mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah. Kita boleh tersenyum lega, karena sesuai dengan laporan triwulan BI pada November 2017 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat pada titik 5.06%, lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 5.01%. Harga komoditas yang membaik dan pertumbuhan ekonomi global yang kuat rupanya meningkatkan kinerja ekspor yang tentunya juga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Komitmen pemerintah untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif rupanya juga memberikan hasil positif. Karena tercatat bahwa pertumbuhan investasi di Indonesia pada akhir 2017 ini mencapai level tertinggi sejak tahun 2013.

Ternyata perekonomian Indonesia terus menguat. Dan ini fakta. Namun kerja keras ini belum berakhir karena jalan panjang bangsa ini untuk meraih cita - cita menuju negara maju yang kuat dan mandiri secara ekonomi masih terbentang lebar di hadapan. Jangan pernah merasa kecil jika kita merasa belum bisa memberikan apa - apa bagi negara ini. Karena aku, kamu, dia.. kita semua dapat berperan serta dalam mewujudkan cita - cita besar bangsa ini dengan satu cara sederhana.. Cinta Rupiah. Yakinlah hal yang kelihatannya sederhana ini dapat membawa perubahan besar bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. Rupiah kuat, ekonomi kuat, negara makin berdaulat.

Untuk Indonesia yang lebih berdaulat, ayo Cintai Rupiah!

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=c8vahHz7u-k&w=560&h=315]

2 Responses to "Cinta Rupiah untuk Indonesia yang Lebih Berdaulat"

  1. Jadi tahu tentang rupiah. Tapi kenapa indonesia tidak pake mata uang dr emas aj kyk di arab? Itu kan tahan lama dan nilai uang sesuai aslinya.

    ReplyDelete
  2. Woo..jd tau ni tentang sejarah rupiah..keren,, dtunggu artikel selanjutnya,,: )

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel