Realita sang pengangkut Sampah

Sumber : www.kompasiana.com

Rumah itu bercat kuning, berpagar besi warna hitam. Tidak seperti rumah - rumah besar lain yang berada di kanan kirinya, rumah itu difungsikan sebagai kantor. Jadilah rumah itu selalu ramai di siang hari, tapi selalu sepi dan tak berpenghuni di malam hari, karena memang tak ada satpam atau hansip yang menjaganya. Setiap senin - jumat 6 orang gadis meramaikan rumah itu dengan tingkah polahnya masing - masing. Ada yang seakan - akan mati suri saking seriusnya mengerjakan tugas kantor, ada yang suka aneh dan ngusilin temen sebelahnya karena bete atau stress sama kerjaan yang bikin kepala migrain, atau ada juga yang suka ketawa2 dan cekikan sendiri padahal kanan kirinya diem aja.

Seperti halnya kantor2 yang lain, 'kantor' ini pun punya aturan sendiri. Jam kerja dari pukul 08.30 - 17.30 (yang suka dilanggar), pakaian bebas rapi sopan, kalo masuk kantor harus lepas alas kaki, g boleh bawa flashdisk (yang selalu dilanggar). Yang paling menyenangkan tentunya jam makan siang karena menu makanannya yang selalu enak dan 4 sehat.


Siang itu saat jam makan siang seperti biasa the ladies menyerbu saung yang terletak di halaman rumah, kemudian mengambil piring dan memenuhinya dengan hidangan lezat yang sudah disediakan. Menu hari itu cukup sederhana, rolade daging isi telur puyuh, serta sayur sawi cah tahu dilengkapi semangka sebagai pencuci mulutnya. Ketika sedang asyiknya makan sambil ditemani Pak Amir, the only one office boy di kantor, tiba - tiba perhatian mereka dialihkan oleh suara pintu gerbang yang berdecit terbuka dengan seseorang yang serta merta masuk ke dalam rumah tanpa rasa canggung. Pakaiannya agak kumal dan dekil plus topi putih cenderung coklat yang sepertinya dipakai secara asal. Orang tersebut tersenyum ke Pak Amir kemudian mendekat ke arah tong sampah di dalam rumah, mengambil isinya tanpa jijik kemudian membawanya keluar dan melemparkannya ke gerobak sampah yang ia bawa. Pemandangan singkat yang membuat seorang gadis berkerudung merah tercenung dan sedikit iba.

"Panas2 begini..kasian." katanya.

"Kasian lho bapak itu." sambung pak Amir. "Gajinya cuma 300 rebu sebulan. Saya pernah liat dia ngambil kue di tempat sampah terus dimakan."

"Hah,, astaghfirullah, kasian. Tapi kok, cma segitu gajinya, komplek isinya rumah gede2 kaya gini apa gak sanggup bayar lebih? Urunan sampah disini berapa sih?" sahut gadis berkerudung coklat.

"Ya gak tau saya kok dikasi segitu. Urunan sampah 45ribu sebulan padahal. Gak tau tu pak RT-nya."

"Hmmm..", gumam gadis berkerudung abu - abu disebelah Pak Amir.

"Buat buang sampah ke TPA mesti bayar Rp.5000,- kalo gak ada yang kebetulan mbayarin ya dia yang nalangin bayar pake duit sendiri. Komplek g ngasi duit buat itu. Untung ibu (red.bos di kantor itu) baik, suka ngasi ke bapak itu."

"Ya Allah,,harusnya uang urunan segitu mah udah cukup banget buat bayar jasa sama ongkos buang ke TPA. Itung aja, 10 rumah aja udah dapet 450 ribu. Uangnya dikemanaken?? Pak RTnya gak bener ni!! Kayak mana sih orangnya, gak punya hati,," rutuk si gadis berkerudung merah.

300 ribu sebulan. Rasannya sulit membayangkan bisa bertahan hidup sehari - hari dengan layak dari gaji sebesar itu selama sebulan. Ditambah ternyata bapak itu tidak puny pekerjaan sampingan. Namun sekilas tadi tak ada rasa lelah atau lesu yang tergurat di wajah bapak itu. Terlihat ikhlas dan tanpa beban. Ya, bapak itu masih beruntung karena ia tinggal bersama anak dan menantunya, sehingga mungkin beban hidupnya lebih ringan. Tapi rasanya masih tidak adil dan emosi jiwa tingkat tinggi saja jika memikirkan hal itu. Dan tidak menutup kemungkinan masih banyak kenyataan2 lain yang lebih pahit diluar sana dibandng bapak itu.

Hmm.Hari ini para gadis di kantor itu belajar satu lagi kisah hidup dan lebih bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan mereka jalani sekarang.

-ditulis di sela2 jam kantor-

0 Response to "Realita sang pengangkut Sampah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel