Sebuah Renungan

Sumber : riza.co.id

Allahumma innii ‘audzubika minal hammi..

Kemarin, ketika sedang asyik – asyiknya berkonsentrasi dengan pekerjaan hari itu, tiba – tiba aku dikejutkan oleh celetukan rekan kerjaku.

Obrolan ringan pun berlanjut..

Akhir – akhir ini pembicaraan kami banyak didominasi masalah masa depan, pernikahan, pasangan hidup dan hal – hal semacamnya. Hal yang lumrah mengingat usia kami yang hampir menginjak seperempat abad. Jujur ini masa – masa yang sulit dan labil, mulai dari orangtua yang bertanya “udah ada calon belum?”, atau pertanyaan dari teman – teman “Kapan nyusul si anu?” yang kadang si penanyanyapun statusnya masih jomblo juga seperti saya. 2 – 3 tahun yang lalu rasanya masih santai saja dengan pertanyaan – pertanyaan macam itu, tapi kini menanggapi dengan guyon atau candaan pun tak mampu. Satu demi satu teman – temanku mulai memasuki fase ini. Biarpun bahagia, tapi perasaan nyesek dan iri pun selalu melintas ketika menerima undangan atau denger kabar ada teman yang habis dikhitbah, dan pertanyaan “aku kapan yaaaa T__T” langsung berputar – putar di kepala. Orangtua berharap aku bisa menikah di umur 24 – 25, yang artinya 1 – 2 tahun lagi. Hiks, semoga sesuai dengan skenario Allah.

Pernikahan. Tanyakan pada semua wanita dan pasti semua akan menjawab “Aku ingin menikah sekali seumur hidup dengan seorang lelaki, dan hidup bahagia berdua hingga ajal memisahkan.”. (Yang intinyaya ya gak mau dipoligami). Jika boleh kutambahkan satu point lagi “I want to create warm & loving family”, itu impianku, yang terinspirasi dari keluarga besar eyangku yang di Bandung (red.bukan eyang kandung). Eyang kakung pegawai PNS, eyang putri ibu rumah tangga yang multi talent dan pebisnis. Mereka punya 6 orang anak yang kini semuanya sudah mentas, namun meskipun sudah pada punya keluarga sendiri mereka selalu menyempatkan waktu untuk ngariung, uang kas pun juga mereka ada. Masalah pasti lah ada, tapi eyang selalu menekankan bahwa komunikasi itu yang paling penting dalam keluarga. Kelihatan sekali kedekatan dan kehangatannya, dan dimataku, mereka adalah profil keluarga besar yang harmonis dan ideal.

Pernikahan adalah satu hal yang sangat penting bagi seorang wanita, karena dengan menikah wanita akan menjadi seorang istri, lalu seorang ibu. Dua status dengan tanggungjawab yang besar. Itulah mengapa ada sebagian wanita yang mendedikasikan diri untuk keluarga dan tidak terlalu mementingkan karir meskipun sebenarnya mereka mampu. Yang ada di pikiranku, buat apa ya punya karir bagus kalau kurang perhatian sama suami, tidak dekat dengan anak – anak dan kurang mengenal karakter mereka. Makan masakannya pembantu, anak – anak lebih deket sama pembantu. Hadeuh..Yah, pengennya sih ikut menyokong perekonomian keluarga tapi juga sukses membangun keluarga. Hanya wanita – wanita hebat yang bisa melakukannya, dan aku ingin menjadi wanita hebat seperti itu.

Pernikahan memang indah, tapi tak selalu indah dan seindah yang dibayangkan. Itu jawaban yang akan kamu dapatkan dari para sesepuh yang sudah menikah selama puluhan tahun. Banyak sekali hal – hal baru dan tantangan – tantangan yang akan kamu hadapi pasca menikah. Mulai dari memahami karakter pasangan yang baru ketahuan aslinya sesudah menikah, merencanakan masa depan dst. Itulah kenapa kesiapan mental, fisik dan finansial dibutuhkan ketika hendak menikah. Menikah juga harus memiliki visi misi yang jelas, jika diibaratkan perahu, maka hendak dilayarkan kemana perahunya? Reference book è “Menikah itu bunuh diri” karya Iwan W (jangan tertipu dengan judul karena mulanya saya pun marah – marah ketika membaca judulnya, tapi muatannya bagus kok).

By the way, bicara soal menikah tentu bicara soal pasangan juga. Bagaimana cara mendapatkannya? Minta dijodohin ortu, minta dijodohin Murobbi, mencari sendiri atau tiba – tiba ketemu dengan teman lama yang dulunya gak pernah ngobrol tapi ternyata nyambung dan serta merta ngajak serius. Silakan saja, untuk hal – hal yang baik insyaAllah akan selalu ada jalannya. Banyak buku – buku yang sudah kubaca dan kisah – kisah yang kudengar, semuanya semakin memantapkan hatiku bahwa “trust me, it will find a way”. Pasangan seperti apa yang kita inginkan untuk berbagi segalanya sampai usia kakek nenek? Terbayangkah bertahun – tahun hidup bersama seseorang, menghabiskan sisa umurmu bersamanya. Soleh, setia dan sayang keluarga, itu kira – kira 3 kriteria utama yang aku cari dari pasangan hidupku nanti. Yah kalo bisa ya tipe – tipe korelis karena kalau sama – sama plegmatis kayanya kurang seru (red. saya plegmatis-sanguinis). Allahualam. Who is he? I don’t know. Bicara soal rasa, manusia dilengkapi dengan hati dan perasaan, jadi normal jika kita memiliki ketertarikan dan kecenderungan kepada seseorang. Betul? Begitupun aku. Manusia pun dilengkapi dengan nafsu, jadi normal – normal saja jika ada perasaan ingin “memiliki” seseorang itu. Betul? Begitupun aku. Memang begitulah kenyataannya, Begitupun Anda (ayo ngaku!!!). Tinggal bagaimana mengelola perasaan itu? Untuk sekarang ini aku sendiri lebih memilih untuk menyimpan perasaan itu dalam hati. Tak perlu ditunjukkan. Tetap tenang, dan berusaha untuk tak terpengaruh suasana hati yang terkadang bergejolak naik turun. Jika ternyata nantinya perasaan ini tak berbalas tentunya ada rasa sedih, kecewa dan patah hati, dan rasanya pasti sakit sekali. Tapi seorang teman mengingatkan, meskipun berat, cobalah untuk menuruti dan mengikuti pemahaman..

Pena telah tergores dan tinta sudah kering. Semua telah tertulis di Lauh Mahfuz. Perasaan itu kuasa Allah dan Diapun yang membolak balikkan. Jika memang berjodoh, biar semua indah pada waktunya. Jika tidak, berarti akan diganti dengan yang lebih baik, dan Allah tahu apa yang baik untuk kita. Kita pun harus meyakininya dalam hati.
lebih cepat belum tentu lebih baik.. Saat yang tepat pasti akan datang


0 Response to "Sebuah Renungan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel