Mimpi, cita - cita dan harapan

Agustus 2004,

Mahasiswa – mahasiswa baru TI duduk rapi dalam barisan. Maba di sebelah kanan, miba disebelah kiri. Sebagian tampak berusaha menahan kantuk setelah seharian berospek ria, dan sebagian lain tampak serius mendengarkan penjelasan sang Trainer. Di sudut lain beberapa panitia berjaga dan berkeliling sambil sesekali menegur jika ada maba miba yang tampak tidak tertib. Wajah – wajah mereka tampak garang dengan ban TATIB warna merah di lengan kanan, siap menghukum siapapun yang patut dihukum dimata mereka, tak terkecuali rekan – rekannya sesama panitia.

Tinngi, besar, hitam dan gendut. Siapapun tak akan lupa sosok sang Trainer. Usianya masih muda, namun prestasinya luar biasa. Dengan badannya yang tampak subur dia berjalan mondar mandir sambil memaparkan materi, walaupun sebenarnya tak perlu begitu karena dia sudah sangat eye catching dari sudut manapun. Hingga tiba – tiba ia berhenti dan bertanya pada kami semua yang ada disana,

“Apa cita – cita, mimpi dan harapan kalian setelah lulus dari sini?”.

Tanpa memberi kesempatan bagi kami untuk berpikir dia langsung bergerak kembali dan mendekati seorang maba yang berkepala plontos. “Apa cita – cita kamu?”, tanya sang trainer “Mm, saya pengen jadi manajer Telkom”, jawab si maba.

“Oke.”, dan sang Trainer mulai bergerak lagi menunjuk seorang maba lain yang juga berkepala plontos. “Kalau kamu?”, si maba tampak diam sebentar dan kemudian menjawab “ Ingin punya perusahaan sendiri pak.”

Di barisan depan Miba ada seorang gadis berambut pendek berjaket abu – abu yang sedari tadi tampak serius memperhatikan penjelasan sang Trainer, anak matanya tak pernah lepas dan selalu mengikuti kemanapun sang Trainer bergerak. Dan sepertinya sang Trainer tersebut menyadari, ketika dia perlahan  mulai mendekat ke arahnya. “Kamu dek, apa cita – cita, mimpi dan harapan kamu setelah lulus dari sini?”. Antara kaget dan takut, karena sosok tinggi besar hitam gendut itu kini berdiri di hadapannya, sementara dia duduk..sambil berusaha tetap tenang dia menjawab,

“Mau buka restoran..”

“gya hahaha..haha..” koor tawa langsung meledak di penjuru ruangan yang tidak terlalu besar itu.

Si gadis tidak bermaksud melucu, itu memang jawaban dari lubuk hatinya yang paling dalam, mimpi yang sangat mengakar kuat sedari dia masih duduk di bangku SD. Namun dia cukup senang jika ternyata jawabannya itu cukup ‘menghibur’ dan memecah kebekuan di sesi itu.




Mimpi dan harapan, dua kata itulah salah satu penyemangat yang menuntun kita untuk terus bergerak dan bergerak. Apa jadinya hidup tanpa mimpi dan cita – cita? Hanya sekedar hidup tanpa memiliki tujuan? Begitupun saya. Saya punya mimpi, harapan dan cita – cita yang seperti bahan bakar dan terus memompa diri saya untuk terus bergerak meraih 2 mimpi besar saya. Kita tidak tahu dinamika hidup ke depan seperti apa, yang saya tahu kita harus terus melangkah. Tiap orang punya cara yang berbeda, ada yang memasang targetan di tahun ini bulan segini harus begini, sementara bagi sebagian orang memasang target – target seperti itu justru membuat stress dan menjalani prosesnya menjadi tidak nikmat (seperti saya, hehe). Saya sendiri termasuk orang yang memegang paribasan “Alon – alon asal klakon”, pelan – pelan asal kontinyu karena sedikit sedikit lama – lama menjadi bukit, yang jelas saya tahu mau apa dan harus bagaimana, meskipun harus memakan waktu buat saya tak masalah. Tulisan ini pun saya buat sebagai reminder, ketika saya mulai letih, lupa atau kendur dan tak bersemangat dalam meraih mimpi. Dan semoga saja tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang membacanya :)
Bismillah,, niat ingsun. Meski harus lama dan tersendat, mari mulai meraih mimpi.

0 Response to "Mimpi, cita - cita dan harapan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel