Dalam Riuh Hujan

Deru motorku berpacu di jalanan, menabrak kepulan asap dan debu, menaburkan aroma aspal di sekujur bajuku. Siang itu sangat mendung dan rasa – rasanya hari itu jalanan tidak cukup ramai. Hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang disekitarku. Saat itu aku hanya ingin segera sampai di rumah supaya bisa lekas melepas lelah, namun suara sirene motor patroli polisi mengagetkanku hingga membuat jantung ini deg-degan. Motor tersebut melaju tepat disampingku,

Sumber : www.fotolia.com


“Kurangi kecepatan mbak, kurangi kecepatan!!”, seru pak polisi lewat balik speaker.

Astaghfirullah. Ternyata aku memang melaju dengan kecepatan tinggi, sambil ngaleweung pula. Astaghfirullah lagi, benar – benar sembrono, entah apa yang sedang kupikirkan saat itu, hingga bisa – bisanya nyetir sambil ngalamun. Beruntung pak polisi hanya menegur saja, tidak sampai menilang. Akupun terus melaju, tentunya dengan kecepatan pelan. Namun terlambat, gerimis keburu datang, disusul hujan dan angin kencang. Terbersit keinginan untuk tetap berjalan, namun logikaku melarang. Dan kuputuskan mencari tempat berteduh terdekat.

Hujan cukup deras, dan kurapatkan diri di sudut teras sebuah bangunan tempatku berteduh. Namun jantung ini masih berdegup kencang dan tak tenang (gara – gara dikagetin polisi tadi). Dan semakin tak karuan, ketika melihat bangkai truk yang terguling di seberang jalan. Ternyata di jalanan tersebut memang baru terjadi kecelakaan truk dan motor (yang kemudian beritanya masuk TV). Lagi – lagi aku beristighfar. Dan bertanya – tanya dalam hati, ada apa ini..

Dalam riuh hujan yang semakin deras, aku sedikit teringat dan menyadari sesuatu. Aku pernah mengingatkan seorang teman untuk hati - hati dalam berkendara, tapi nyatanya aku sendiri ceroboh begini. Aku sering menegur seorang teman yang suka pulang malam, tapi aku sendiri pernah pulang hingga larut malam. Aku pernah berpesan pada beberapa teman, senyum itu ibadah, ceria itu menular, jadi hiasi hari – harimu dengan senyum dan keceriaan. Tapi aku sendiri? Ah..kontradiktifkah atau munafik? Ups, kasar sekali.

Memang benar bahwa mengingatkan orang ibarat mengingatkan diri sendiri. Semoga dari situ kita terpacu untuk lebih baik lagi. Tapi memang manusia gudangnya salah dan lupa. Jadi berhati – hatilah. Teringat kata seorang teman. Jangan lupa selalu koreksi diri dan jangan lupa rendahkan hati.

Allahualam.

Seperti biasa. Kupaksakan senyum walau sakit sekali. Kulebarkan tawa walau luka di hati. Sepertinya sudah cukup belajar. Berharap jangan lagi terulang. Untuk suatu kehilangan yang telah kuikhlaskan. Walau bukan ini yang kuharapkan.


0 Response to "Dalam Riuh Hujan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel